Hakekat Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar


A. Hakekat Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar
1. Hakekat Belajar
Fontana (Sutardi, 2007:2) menyatakan bahwa “belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku yang terjadi pada seseorang”. Perubahan terjadi sebagai akibat dari poses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti bertambahnya pengetahuan, pemahaman tentang sesuatu maupun tergambar dalam perubahan tingkah laku dan keterampilan. Dengan demikian proses belajar pada dasarnya adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Sedangkan yang dimaksud dengan pengalaman dalam proses belajar tidak lain adalah interaksi antara individu dengan lingkungannya.
Menurut Skinner belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi baik. Sebaliknya jika ia tidak belajar maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya kesempatan terjadi peristiwa yang menimbulkan respon belajar, respon sipembelajar dan konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Arthur (Sagala, 2003:12) menyatakan bahwa belajar adalah modificatioan of behavior throught experience and training yaitu perubahan atau membawa akibat perubahan tingkah laku dalam pendidikan karena pengalaman dan latihan. Dalam mengalami itu anak belajar terus menerus antara anak didik dengan lingkungannya.
Gagne (Sagala, 2003:17) bahwa belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut dari stimulusasi dengan lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar. Dengan demikian belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses mencari ilmu yang terjadi dalam diri seseorang melalui latihan, pembelajaran dan sebagainya sehingga terjadi perubahan dalam diri seseorang.

2. Hakekat Pembelajaran
Secara etimologis kata “Pembelajaran” adalah terjemahan dari bahasa inggris “Intruction”. Kata pembelajaran itu sediri merupakan perkembangan dari istilah belajar mengajar atau proses belajar-mengajar yang telah cukup lama digunakan dalam dunia pendidikan formal (sekolah). Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
Sedangkan “Pembelajaran menurut Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2003 adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar” (Tim Cemerlang, 2007:68).
Pola interaksi guru dengan siswa pada hakekatnya adalah hubungan antara dua pihak yang setara, yaitu antara dua manusia yang sedang medewasakan dirinya, mesikipun yang stu telah ada pada tahap yang seharusnya lebih maju dalam aspek akal, moral, maupun emosional. Dengan kata lain guru dan siswa merupakan subjek, karena masing-masing memiliki kebebasan secara aktif. Dengan menyadari pola interaksi tersebut memungkinkan keterlibatan mental siswa secara optimal dalam merealisasikan pengalaman belajar.
Saylor (Sutardi, 2007:2) menyatakan bahwa “Instruction isthis the implementation of curriculum plan, usually but not necessarily, involving teaching in the sense of student, teacher interaction in an educational setting. Pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum yang menuntut keaktifan seorang guru dalam mewujudkannya. Guru aktif dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa sesuai dengan program yang dibuatnya.
Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan interaksi antara guru dan siswa. Kualitas hubungan antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran sebagian besar ditentukan oleh guru dalam mengajar (teaching) dan siswa dalam belajar (learning). Kualitas hubungan antara guru dan siswa menentukan keberhasilan proses pembelajaran yang efektif. Mengingat begitu pentingnya peranan hubungan antara guru dan siswa dalam menentukan keberhasilan pembelajaran, maka guru dituntut untuk mampu menciptakan hubungan yang positif. Guru dituntut untuk menciptakan suasana yang kondusif agar siswa bersedia terlibat sepenuhnya pada kegiatan pembelajaran.
Beberapa fungsi guru dalam proses pembelajaran. Ada lima fungsi guru dalam proses pembelajaran, yaitu sebagai berikut :

1) Manajer
Sebagai menajer dalam pembelajaran, seorang guru pada hakekatnya berfungsi umtuk melakukan semua kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian guru bertugas merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengontrol kegiatan.
2) Fasilitator
Seorang guru berfungsi untuk memberi kemudahan (kesempatan) kepada siswa untuk belajar. Guru tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya sumber belajar bagi siswa, namun guru berperan penting untuk dapat menunjukkan sumber-sumber belajar lain pada siswa.
3) Moderator
Guru bertugas mengatur, mengarahkan, mendorong dan mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Guru merupakan motor atau daya penggerak dari semua komponen pembelajaran guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.
4) Motivator
Guru harus bisa memotivasi siswa, menciptakan suasana yang mendorong siswa untuk mau belajar dan memiliki keinginan untuk belajar secara kontinu.
5) Evaluator
Guru bertugas mengevaluasi (menilai) proses belajar mengajar dan memberikan umpan balik hasil (prestasi) belajar siswa, baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: