Bahasa Indonesia : “Kosa Kata & Kata Umum”


A. Pengertian kosakata
Berdasarkan KBBI (2003:597) kosakata adalah perbendaharaan kata atau banyaknya kata-kata yang dimiliki suatu bahasa . Pendapat ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hendri Guntur Tarigan (1985:197) bahwa ”Kosakata adalah kata-kata yang merupakan perbendaharaan suatu bahasa.”
Sedangkan Soedjito (1988:1) memberikan batasan kosakata sebagai berikut: Kosakata adalah
a. Semua kata-kata yang terdapat dalam suatu bahasa.
b. Kata yang dipakai dalam suatu ilmu.
c. Kekayaan kata yang dimiliki oleh seorang pembicara.
d. Daftar kata yang disusun kamus disertai penyelesaian singkat dan praktis.
Sejumlah kosakata yang dimiliki siswa, belum tentu siswa yang bersangkutan benar-benar terampil dalam berbahasa. Belum tentu semua kata-kata yang dimiliki benar-benar dipahami maknanya, sehingga mampu menerapkannya dalam kegiatan berbahasa, baik lisan maupun tulisan dengan tepat. Agar siswa terampil, diperlukan pemahaman dalam penggunaan kosakata yang baik. Seperti yang dikemukakan oleh Tarigan (1993:2) bahwa ”Kualitas ketrampilan berbahasa sesesorang jelas tergantung pada kualitas kosakata yang dimilikinya”. Semakin kaya seseorang akan kosakata yang dimilikinya, semakin besar pula kemungkinan terampil dalam berbahasa.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa penguasaan kosakata memberikan kontribusi yang positif antara penguasaan dengan kualitas ketrampilan berbahasa seseorang.
Begitu pula kosakata serapan merupakan kosakata yang berasal dari unsur bahasa daerah atau asing yang diserap dalam Bahasa Indonesia. Setelah lama dipergunakan oleh masyarakat Indonesia tidak terasa lagi unsur kedaerahannya maupun keasingannya

B. Kata umum
Kata umum adalah kata yang ruang lingkup pemakaiannya berbagai hal. Oleh sebab itu, sebagai ilmu kata-kata umum ini dipergunakan dalam berbagai kegiatan, sehingga terdapat berbagai jenis kata umum, seperti : kata umum bidang pemerintahan, politik, perdagangan, transportasi, dan sebagainya.
Dewasa ini banyak kata umum yang muncul dalam kata Bahasa Indonesia. Kata-kata umum yang merupakan kata serapan dipengaruhi berbagai hal kegiatan berdasarkan taraf integritasnya. Penulisan kata umum yang berdasarkan unsur serapan dalam Bahasa Indonesia dapat dibagi dalam dua golongan besar yaitu :
1. Unsur asing yang belum diserap sepenuhnya terserap kedalam Bahasa Indonesia.
2. Unsur asing yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah Bahasa Indonesia.
Kata umum unsur serapan ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan Bahasa Indonesia tetapi juga akan lebih sanggup menjelaskan fenomena – fenomena yang berkembang.

C. Proses Penyerapan Kata Umum Unsur Serapan dari Bahasa Asing
Proses penyerapan kata umum unsur serapan bahasa asing menurut Chaer (1993:73) ada tiga cara yaitu :
1. Cara Audial
Proses penyerapan secara audial merupakan suatu penyerapan unsure.
2. Cara Visual
Proses penyerapan secara visual merupakan suatu penyerapan unsur asing melalui indra penglihatan.
3. Audio Visual
Proses penyerapan audio visual merupakan suatu proses penyerapan unsur asing melalui pendengaran dan penglihatan sekaligus.
Selanjutnya menurut Soedjito ( 1998:73 ) mengemukakan kata umum unsur serapan dibagi tiga golongan, yaitu :
1. Adopsi
Adopsi adalah pungutan secara utuh tanpa perubahan dan penyesuaian. Contoh : fase-fase, fasal – fasal.
2. Adaptasi
Adaptasi adalah penyerapan yang disesuaikan dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia. Dalam penyesuaian kata–kata asing tersebut diusahakan tidak berbeda dengan ejaan asingnya. Perubahan hanya seperlunya saja sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan ejaan asingnya. Contoh : Congres – kongres.
3. Pungutan
Pungutan terjemahan merupakan pengutan yang dihasilkan dengan menerjemahkan kata / istilah tanpa mengubah makna konsep gagasan (makna konsep harus sama / sepadan). Bentuk terjemahan yang dihasilkan ada dua macam, yaitu :
a. Sama, contoh : batasan – definisi.
b. Tidak sama, contoh makalah – working paper.

D. Hubungan Antara Pemahaman Kata dengan Kamus
Pembicaraan makna kata akan berkaitan erat dengan kamus yang merupakan daftar nama kata. Kamus tidak hanya sekedar pencatat atau perekam makna tetapi lebih jauh dari itu memiliki makna leksikal . Menurut Poerwadarminta (1976 : 624) mengatakan “Makna = arti atau maksud”, sedangkan menurut Homby (1961 : 782) berpendapat “Makna adalah apa yang kita artikan atau apa yang kita maksud”. Didalam buku The Meaning of Meaning, Ogden dan Richard (1972 : 186-187) mengumpulkan tidak kurang dari 22 definisi tentang makna . Ullman mengatakan “ Ada hubungan antara makna dengan pengertian. Apabila seseorang mendengar kata tentu ia membayangkan bendanya dan apabila seseorang membayangkan suatu benda ia akan segera mengatakan benda tersebut. Inilah hubunga timbal – balik antara bunyi dan pengertian dan inilah makna kata tersebut”. Stevenson (1994 : 3) dalam buku Ethcs and Language yang dikutip Shipley (1962 : 261) berpendapat “Ia menafsirkan makna sebuah lambang berarti ia memikirkan sebagaimana mestinya tentang lambang tersebut, yakni suatu keinginan untuk menghasilkan jawaban tertentu, dengan kondisi-kondisi tertentu pula” dalam Mansoer Pateda .
Menurut Tarigan (1985 : 170) bahwa kamus adalah tempat penyimpanan pengalaman – pengalaman manusia yang telah diberi nama, dengan demikian merupakan saran penting dalam pengajaran kosakata dan pengajaran semantik. Kamus memberikan informasi tentang devariasi kata, makna kata, ungkapan, kata-kata asing, kata ganti diri, dan singkatan-singkatan.
Menurut para ahli dalam Tarigan (1985 : 170) mengemukakan pengertian kamus sebagai berikut :
1. The American Collage (1960 : 336) mengatakan bahwa kamus adalah buku yang berisi pilihan-pilihan kata suatu bahasa atau suatu kelas kata khusus, biasanya disusun secara alfabetis dengan penjelasan-penjelasan mengenai maknanya serta informasi lainnya mengenai kata-kata, dinyatakan atau diekspresikan dalam bahasa atau bahasa lainnya, disebut pula leksikon atau glosari.
2. Ladislav Zgusta (1971 : 197) mengatakan bahwa kamus adalah daftar linguistic yang telah disosialisasikan yang disusun secara bersistem yang dihimpun dalam kebiasaan-kebiasaan bahasa suatu masyarakat bahasa tertentu yang dikomentari oleh seorang pengarang dengan cara yang sedemikian rupa sehingga pembaca yang memenuhi syarat memahami makna setiap bentuk terpisah, dan diberi informasi mengenai fakta-fakta yang relevan yang ada kaitannya dengan fungsi bentuk tersebut di dalam masyarakat.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s