Makalah Perkembangan Demokrasi di Indonesia


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yang sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.

Berawal dari kemenangan Negara-negara Sekutu (Eropah Barat dan Amerika Serikat) terhadap Negara-negara Axis (Jerman, Italia & Jepang) pada Perang Dunia II (1945), dan disusul kemudian dengan keruntuhan Uni Soviet yang berlandasan paham Komunisme di akhir Abad XX , maka paham Demokrasi yang dianut oleh Negara-negara Eropah Barat dan Amerika Utara menjadi paham yang mendominasi tata kehidupan umat manusia di dunia dewasa ini.

Suatu bangsa atau masyarakat� di Abad XXI ini� baru mendapat pengakuan sebagai warga dunia yang beradab (civilized) bilamana menerima dan menerapkan� demokrasi sebagai landasan pengaturan tatanan kehidupan kenegaraannya. Sementara bangsa atau masyarakat yang menolak demokrasi dinilai sebagai bangsa/masyarakat yang belum beradab (uncivilized).

Indonesia adalah salah satu negara yang menjunjung tinggi demokrasi, untuk di Asia Tenggara Indonesia adalah negara yang paling terbaik menjalankan demokrasinya, mungkin kita bisa merasa bangga dengan keadaan itu.

Didalam praktek kehidupan kenegaraan sejak masa awal kemerdekaan hingga saat ini, ternyata paham demokrasi perwakilan yang dijalankan di Indonesia terdiri dari beberapa model demokrasi perwakilan yang saling berbeda satu dengan lainnya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka diperoleh permasalahan antara lain:

Bagaimana sejarah dan perkembangan demokrasi di Indonesia?

1.3 Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Budaya Masyarakat Demokrasi serta untuk wawasan dan ilmu kami tentang Perkembangan demokrasi di Indonesia

1.4 Metode dan Prosedur

Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber buku dan browsing di internet.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Demokrasi di Indonesia

Sejak Indonesia merdeka dan berdaulat sebagai sebuah negara pada tanggal 17 Agustus 1945, para Pendiri Negara Indonesia (the Founding Fathers) melalui UUD 1945 (yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945) telah menetapkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (selanjutnya disebut �NKRI�) menganut paham atau ajaran demokrasi, dimana kedaulatan (kekuasaan tertinggi)� berada ditangan Rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dengan demikian berarti juga NKRI tergolong sebagai negara yang menganut paham Demokrasi Perwakilan (Representative Democracy).

Penetapan paham demokrasi sebagai tataan pengaturan hubungan antara rakyat disatu pihak dengan negara dilain pihak oleh Para Pendiri Negara Indonesia yang duduk di BPUPKI tersebut, kiranya tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa sebahagian terbesarnya pernah mengecap pendidikan Barat, baik mengikutinya secara langsung di negara-negara Eropah Barat (khususnya Belanda), maupun mengikutinya melalui pendidikan lanjutan atas dan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia sejak beberapa dasawarsa sebelumnya, sehingga telah cukup akrab dengan ajaran demokrasi yang berkembang di negara-negara Eropah Barat dan Amerika Serikat. Tambahan lagi suasana pada saat itu (Agustus 1945) negara-negara penganut ajaran demokrasi telah keluar sebagai pemenang Perang Dunia-II.

Didalam praktek kehidupan kenegaraan sejak masa awal kemerdekaan hingga saat ini, ternyata paham demokrasi perwakilan yang dijalankan di Indonesia terdiri dari beberapa model demokrasi perwakilan yang saling berbeda satu dengan lainnya.

Sejalan dengan diberlakukannya UUD Sementara 1950 (UUDS 1950) Indonesia mempraktekkan model Demokrasi Parlemeter Murni (atau dinamakan juga Demokrasi Liberal), yang diwarnai dengan cerita sedih yang panjang tentang instabilitas pemerintahan (eksekutif = Kabinet) dan nyaris berujung pada konflik ideologi di Konstituante pada bulan Juni-Juli 1959.

Guna mengatasi konflik yang berpotensi mencerai-beraikan NKRI tersebut di atas, maka pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Ir.Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang memberlakukan kembali UUD 1945, dan sejak itu pula diterapkan model Demokrasi Terpimpin yang diklaim sesuai dengan ideologi Negara Pancasila dan paham Integralistik yang mengajarkan tentang kesatuan antara rakyat dan negara.

Namun belum berlangsung lama, yaitu hanya sekitar 6 s/d 8 tahun dilaksanakan-nya� Demokrasi Terpimpin, kehidupan kenegaraan kembali terancam akibat konflik politik dan ideologi yang berujung pada peristiwa G.30.S/PKI pada tanggal 30 September 1965, dan turunnya Ir. Soekarno dari jabatan Presiden RI pada tanggal 11 Maret 1968.

Presiden Soeharto yang menggantikan Ir. Soekarno sebagai Presiden ke-2 RI dan menerapkan model Demokrasi yang berbeda lagi, yaitu dinamakan Demokrasi Pancasila (Orba), untuk menegaskan klaim bahwasanya model demokrasi inilah yang sesungguhnya sesuai dengan ideologi negara Pancasila.

Demokrasi Pancasila (Orba) berhasil bertahan relatif cukup lama dibandingkan dengan model-model demokrasi lainnya yang pernah diterapkan sebelumnya, yaitu sekitar 30 tahun, tetapi akhirnyapun ditutup dengan cerita sedih dengan lengsernya Jenderal Soeharto dari jabatan Presiden pada tanggal 23 Mei 1998, dan meninggalkan kehidupan kenegaraan yang tidak stabil dan� krisis disegala aspeknya.

Sejak runtuhnya Orde Baru yang bersamaan waktunya dengan lengsernya Presiden Soeharto, maka NKRI memasuki suasana kehidupan kenegaraan yang baru, sebagai hasil dari kebijakan reformasi yang dijalankan terhadap hampir semua aspek kehidupan masyarakat dan negara yang berlaku sebelumnya. Kebijakan reformasi ini berpuncak dengan di amandemennya UUD 1945 (bagian Batangtubuhnya) karena dianggap sebagai sumber utama kegagalan tataan kehidupan kenegaraan di era Orde Baru.

Amandemen UUD 1945, terutama yang berkaitan dengan kelembagaan negara, khususnya laginya perubahan terhadap aspek pembagian kekuasaan dan aspek sifat hubungan antar lembaga-lembaga negaranya, dengan sendirinya mengakibatkan terjadinya perubahan terhadap model demokrasi yang dilaksana-kan dibandingkan dengan model Demokrasi Pancasila di era Orde Baru.

Model Demokrasi pasca Reformasi (atau untuk keperluan tulisan ini dinamakan saja sebagai �Demokrasi Reformasi�, karena memang belum ada kesepakatan mengenai namanya) yang telah dilaksanakan sejak beberapa tahun terakhir ini, nampaknya� belum menunjukkan tanda-tanda kemampuannya untuk mengarah-kan tatanan kehidupan kenegaraan yang stabil (ajeq), sekalipun lembaga-lembaga negara yang utama, yaitu� lembaga eksekutif (Presiden/Wakil Presiden) dan lembaga-lembaga legislatif (DPR dan DPD) telah terbentuk melalui pemilihan umum langsung yang memenuhi persyaratan sebagai mekanisme demokrasi.

2.2. Perkembangan Demokrasi di Indonesia

Perkembangan demokrasi di Indonesia dapat dilihat dari Pelaksanaan Demokrasi�yang pernah ada di Indonesiai ini. Pelaksanaan demokrasi di indonesia dapat dibagi menjadi beberapa periodesasi antara lain :

1. Pelaksanaan demokrasi pada masa revolusi ( 1945 – 1950 ).

Tahun 1945 – 1950, Indonesia masih berjuang menghadapi Belanda yang ingin kembali ke Indonesia. Pada saat itu pelaksanaan demokrasi belum berjalan dengan baik. Hal itu disebabkan oleh masih adanya revolusi fisik. Pada awal kemerdekaan masih terdapat sentralisasi kekuasaan hal itu terlihat Pasal 4 Aturan Peralihan UUD 1945 yang berbnyi sebelum MPR, DPR dan DPA dibentuk menurut UUD ini segala kekuasaan dijalankan oleh Presiden denan dibantu oleh KNIP. Untuk menghindari kesan bahwa negara Indonesia adalah negara yang absolut pemerintah mengeluarkan :

  • Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945, KNIP berubah menjadi lembaga legislatif.
  • Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 tentang Pembentukan Partai Politik.
  • Maklumat Pemerintah tanggal 14 Nopember 1945 tentang perubahan sistem pemerintahn presidensil menjadi parlementer

2. Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde Lama

a. Masa Demokrasi Liberal 1950 � 1959

Masa demokrasi liberal yang parlementer presiden sebagai lambang atau berkedudukan sebagai Kepala Negara bukan sebagai kepala eksekutif. Masa� demokrasi ini peranan parlemen, akuntabilitas politik sangat tinggi dan berkembangnya partai-partai politik.

Namun demikian praktik demokrasi pada masa ini dinilai gagal disebabkan :

  • Dominannya partai politik
  • Landasan sosial ekonomi yang masih lemah
  • Tidak mampunya konstituante bersidang untuk mengganti UUDS 1950

Atas dasar kegagalan itu maka Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 :

  • Bubarkan konstituante
  • Kembali ke UUD 1945 tidak berlaku UUD S 1950
  • Pembentukan MPRS dan DPAS

b. Masa Demokrasi Terpimpin 1959 – 1966

Pengertian demokrasi terpimpin menurut Tap MPRS No. VII/MPRS/1965 adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan yang berintikan musyawarah untuk mufakat secara gotong royong diantara semua kekuatan nasional yang progresif revolusioner dengan berporoskan nasakom dengan ciri:

  1. Dominasi Presiden
  2. Terbatasnya peran partai politik
  3. Berkembangnya pengaruh PKI

Penyimpangan masa demokrasi terpimpin antara lain:

  1. Mengaburnya sistem kepartaian, pemimpin partai banyak yang dipenjarakan
  2. Peranan Parlemen lembah bahkan akhirnya dibubarkan oleh presiden dan presiden membentuk DPRGR
  3. Jaminan HAM lemah
  4. Terjadi sentralisasi kekuasaan
  5. Terbatasnya peranan pers
  6. Kebijakan politik luar negeri sudah memihak ke RRC (Blok Timur)

Akhirnya terjadi peristiwa pemberontakan G 30 September 1965 oleh PKI yang menjadi tanda akhir dari pemerintahan Orde Lama.

3. Pelaksanaan demokrasi Orde Baru 1966 – 1998

Dinamakan juga demokrasi pancasila. Pelaksanaan demokrasi orde baru ditandai dengan keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966, Orde Baru bertekad akan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekwen. Awal Orde baru memberi harapan baru pada rakyat pembangunan disegala bidang melalui Pelita I, II, III, IV, V dan pada masa orde baru berhasil menyelenggarakan Pemilihan Umum tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.

Namun demikian perjalanan demokrasi pada masa orde baru ini dianggap gagal sebab:

  1. Rotasi kekuasaan eksekutif hampir dikatakan tidak ada
  2. Rekrutmen politik yang tertutup
  3. Pemilu yang jauh dari semangat demokratis
  4. Pengakuan HAM yang terbatas
  5. Tumbuhnya KKN yang merajalela

Sebab jatuhnya Orde Baru:

  1. Hancurnya ekonomi nasional ( krisis ekonomi )
  2. Terjadinya krisis politik
  3. TNI juga tidak bersedia menjadi alat kekuasaan orba
  4. Gelombang demonstrasi yang menghebat menuntut Presiden Soeharto untuk turun jadi Presiden.

4. Pelaksanaan Demokrasi Reformasi {1998 � Sekarang).

Berakhirnya masa orde baru ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke Wakil Presiden BJ Habibie pada tanggal 21 Mei 1998.

Masa reformasi berusaha membangun kembali kehidupan yang demokratis antara lain:

  1. Keluarnya Ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentang pokok-pokok reformasi
  2. Ketetapan No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan tap MPR tentang Referandum
  3. Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan Negara yang bebas dari KKN
  4. Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang pembatasan Masa Jabatan Presiden dan Wakil Presiden RI
  5. Amandemen UUD 1945 sudah sampai amandemen I, II, III, IV

Pada Masa Reformasi berhasil menyelenggarakan pemiluhan umum sudah dua kali yaitu tahun 1999 dan tahun 2004.

2.3 Perbedaan – Perbedaan Demokrasi

1. Berkenaan dengan Kedaulatan Rakyat.

a. Demokrasi Liberal.

Kedaulatan Rakyat sepenuhnya dilaksanakan oleh DPR (Parlemen). Dan DPR membentuk serta memberhentikan Pemerintah/Eksekutif (Kabinet).

b. Demokrasi Terpimpin.

Meskipun secara normatif konstitusional ditetapkan bahwa Kedaulatan ada ditangan rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis Permusya-waratan Rakyat (MPR), namun secara praktis justru kedaulatan sepenuhnya berada ditangan Presiden. Dan Presiden membentuk MPR(S) dan DPR-GR berdasarkan Keputusan Presiden

c.Demokrasi Pancasila (Orba).

Kedaulatan Rakyat sepenuhnya dijalankan� oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), baru kemudian MPR membagi-bagikan kedaulatan tersebut kedalam bentuk kekuasaan-kekuasaan kepada lembaga-lembaga negara lainnya (Presiden, DPR, MA, Bepeka dsb.)

d. Demokrasi Reformasi.

Kedaulatan Rakyat sepenuhnya tetap berada ditangan rakyat, dan rakyat secara langsung membagi-bagikan kedaulatan tersebut kedalam bentuk kekuasaan-kekuasaan kepada lembaga-lembaga negara lainnya (Presiden, MPR, DPR, DPD, MA, MK, dsb.)

2. Berkenaan dengan Pembagian Kekuasaan

a. Demokrasi Liberal

Kekuasaan DPR (Legislatif) sangat kuat dibandingkan dengan kekuasaan Pemerintah/Kabinet (Eksekutif), bahkan DPR dapat memberhentikan Pemerintah/Kabinet. Sementara Presiden hanya berkedudukan sebagai Kepala Negara saja (Simbol Negara saja).

b. Demokrasi Terpimpin.

Kekuasaan Pemerintah/Presiden (Eksekutif) sangat kuat (dominan) dibandingkan dengan kekuasaan DPR (Legislatif), bahkan Presiden dapat membubarkan DPR serta mengangkat anggota-anggota DPR (GR).

Jabatan Presiden ditetapkan untuk masa seumur hidup, sehingga tidak bisa diberhentikan oleh MPRS.

c. Demokrasi Pancasila (Orba)

Meskipun secara normatif konstitusional, ditetapkan :

1).� Kekuasaan Presiden sebagai Kepala Pemerintahan (Eksekutif) maupun Kepala Negara lebih kuat dibandingkan kekuasaan DPR (Legislatif).

2).� Kecuali dalam hal Anggaran Belanja Negara, maka kekuasaan Presiden dibidang legislasi (pembentukan undang-undang) lebih kuat dibanding-kan kekuasaan DPR (Legislatif).

Namun secara praktis Kekuasaan Pemerintah/Presiden (Eksekutif) sangat kuat (dominan) dibandingkan dengan kekuasaan DPR (Legislatif), sebagai akibat adanya :

1).� Campur tangan Pemerintah didalam kehidupan kepartaian.

2).� Dominasi Pemerintah didalam penyelenggaraan pemilihan umum anggota Legislatif (termasuk menyeleksi calon-calon Legislatif dari partai peserta pemilu).

3).� Kewenangan Presiden didalam pengangkatan anggota MPR dari unsur Utusan Golongan yang jumlahnya cukup besar.

d. Demokrasi Reformasi.

1).� Kekuasaan Presiden sebagai Kepala Pemerintahan (Eksekutif) maupun Kepala Negara jauh berkurang karena harus dibagi kepada DPR (Legislatif).

2).� Kekuasaan Presiden dibidang legislasi (pembentukan undang-undang termasuk UU-APBN)� lebih lemah dibandingkan kekuasaan DPR (Legislatif). Bahkan sebuah Rancangan Undang-Undang yang telah disetujui oleh DPR dapat berlaku meskipun tidak disetujui dan tidak diundangkan oleh Presiden/Pemerintah.

3).� Kekuasaan Presiden sebagai Kepala Pemerintahan (Eksekutif)� menjadi semakin berkurang dengan dilaksanakannya Otonomi Daerah.

3.�� Berkenaan dengan Mekanisme Pengambilan Keputusan

a. Demokrasi Liberal

Semua keputusan di lembaga perwakilan rakyat (DPR)� diambil berdasarkan voting dengan suara terbanyak.

b.Demokrasi Terpimpin

Semua pengambilan keputusan di lembaga perwakilan rakyat (MPRS dan DPR-GR) harus berdasarkan musyawarah mufakat (suara bulat).

(Ada Ketetapan MPRS yang khusus menetapkan hal ini).

c.Demokrasi Pancasila (Orba)

Semua keputusan di lembaga perwakilan rakyat (MPR dan DPR) pertama-tama diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat, dan jika musyawarah tidak berhasil mencapai mufakat, maka keputusan diambil berdasarkan voting dengan suara terbanyak.

Namun didalam prakteknya pihak Pemerintah senantiasa mengupayakan agar keputusan di DPR dan MPR diambil secara musyawarah (suara bulat) untuk membuat kesan bahwa keputusan tersebut didukung oleh segenap rakyat.

d.Demokrasi Reformasi

Semua keputusan di lembaga perwakilan rakyat (MPR dan DPR) didalam prakteknya langsung diambil berdasarkan voting dengan suara terbanyak.

2.4 Pemilihan Umum Sebagai Pelaksanaan Demokrasi

a. Pengertian Pemilihan Umum

Salah satu cirri Negara demokratis debawa rule of law adalah terselenggaranya kegiatan pemilihan umum yang bebas. Pemilihan umum merupakan sarana politik untuk mewujudkan kehendak rakyat dalam hal memilih wakil-wakil mereka di lembaga legislatif serta memilih pemegang kekuasaan eksekutif baik itu presiden/wakil presiden maupun kepala daerah.
Pemilihan umumbagi suatu Negara demokrasi berkedudukan sebagai sarana untuk menyalurkan hak asasi politik rakyat. Prmilihan umum memiliki arti penting sebagai berikut:

1) Untuk mendukung atau mengubah personel dalam lembaga legislative

2) Membentuk dukungan yang mayoritas rakyat dalam menentukan pemegang kekuasaan eksekutif untuk jangka tertentu

3) Rakyat melalui perwakilannya secara berkala dapat mengoreksi atau mengawasi kekuatan eksekutif.

b. Tujuan Pemilihan Umum

Pada pemerintahan yang demokratis, pemilihan umum merupakan pesta demokrasi. Secara umum tujuan pemilihan umum adalah

1) Melaksanakan kedaulatan rakyat

2 ) Sebagai perwujudan hak asas politik rakyat

3) Untuk memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di lembaga legislatif serta memilih Presiden dan wakil Presiden.

4) Melaksanakan pergantian personel pemerintahan secara aman, damai, dan tertib

5) Menjamin kesinambungan pembangunan nasional

Menurut Ramlan Surbakti, kegiatan pemilihan umum berkedudukan sabagai :

1) Mekanisme untuk menyeleksi para pemimpin dan alternatif kebijakan umum

2) Makanisme untuk memindahkan konflik kepentingan dari masyarakat ke lembagag-lembaga perwakilan melalui wakil rakyat yang terpilih, sehingga integrasi masyarakat tetap terjaga.

3)Sarana untuk memobilisasikan dukungan rakyat terhadap Negara dan pemerintahan dengan jalan ikut serta dalam proses politik.

Pemilu 1955 merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10 tahun. Dapat dikatakan pemilu merupakan syarat minimal bagi adanya demokrasi.

Secara lebih jelas Juan J. Linz dan Alfred Stepan merumuskan bahwa suatu transisi demokrasi berhasil dilakukan suatu negara jika

(a) tercapai kesepakatan mengenai prosedur-prosedur politik untuk menghasilkan pemerintahan yang dipilih

(b) jika suatu pemerintah memegang kekuasaannya atas dasar hasil pemilu yang bebas

(c) jika pemerintah hasil pemilu tersebut secara de facto memiliki otoritas untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan baru dan

(d) kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang dihasilkan melalui demokrasi yang baru itu secara de jure tidak berbagi kekuasaan dengan lembaga-lembaga lain.

Sementara itu dalam perspektif Larry Diamond, konsolidasi demokrasi mencakup pencapaian tiga agenda besar, yakni :

(a) kinerja atau performance ekonomi dan politik dari rezim demokratis

(b) institusionalisasi politik (penguatan birokrasi, partai politik, parlemen, pemilu, akuntabilitas horizontal, dan penegakan hukum)

(c) restrukturisasi hubungan sipil-militer yang menjamin adanya kontrol otoritas sipil atas militer di satu pihak dan terbentuknya civil society yang otonom di lain pihak.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sejak Indonesia merdeka dan berdaulat sebagai sebuah negara pada tanggal 17 Agustus 1945, para Pendiri Negara Indonesia (the Founding Fathers) melalui UUD 1945 (yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945) telah menetapkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (selanjutnya disebut �NKRI�) menganut paham atau ajaran demokrasi, dimana kedaulatan (kekuasaan tertinggi)� berada ditangan Rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dengan demikian berarti juga NKRI tergolong sebagai negara yang menganut paham Demokrasi Perwakilan (Representative Democracy).

Didalam praktek kehidupan kenegaraan sejak masa awal kemerdekaan hingga saat ini, ternyata paham demokrasi perwakilan yang dijalankan di Indonesia terdiri dari beberapa model demokrasi perwakilan yang saling berbeda satu dengan lainnya.

Perkembangan demokrasi di Indonesia dapat dilihat dari Pelaksanaan Demokrasi�yang pernah ada di Indonesiai ini. Pelaksanaan demokrasi di indonesia dapat dibagi menjadi beberapa periodesasi antara lain :

1. Pelaksanaan demokrasi pada masa revolusi ( 1945 – 1950 )

2. Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde Lama

a. Masa Demokrasi Liberal 1950 � 1959

b. Masa Demokrasi Terpimpin 1959 – 1966

3. Pelaksanaan demokrasi Orde Baru 1966 � 1998

4. Pelaksanaan Demokrasi Reformasi {1998 � Sekarang)

Salah satu cirri Negara demokratis debawa rule of law adalah terselenggaranya kegiatan pemilihan umum yang bebas. Pemilihan umum merupakan sarana politik untuk mewujudkan kehendak rakyat dalam hal memilih wakil-wakil mereka di lembaga legislatif serta memilih pemegang kekuasaan eksekutif baik itu presiden/wakil presiden maupun kepala daerah.
Pemilihan umumbagi suatu Negara demokrasi berkedudukan sebagai sarana untuk menyalurkan hak asasi politik rakyat.

Dapat dikatakan pemilu merupakan syarat minimal bagi adanya demokrasi. Pemilu 1955 merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10 tahun.

3.2 Saran

Sudah sepantasnya kita sebagai negara yang berdemokrasi bisa menghargai pendapat orang lain. Kita sebagai warga Negara harus ikut menciptakan Negara yang berdemokrasi.Kelebihan dan kekurangan pada masing-masing masa demokrasi tersebut pada dasarnya bisa memberikan pelajaran berharga bagi kita.

Harapan dari adanya demokrasi yang mulai tumbuh adalah ia memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kemaslahatan umat dan juga bangsa. Misalnya saja, demokrasi bisa memaksimalkan pengumpulan zakat oleh negara dan distribusinya mampu mengurangi kemiskinan. Disamping itu demokrasi diharapkan bisa menghasilkan pemimpin yang lebih memperhatikan kepentingan rakyat banyak seperti masalah kesehatan dan pendidikan.Tidak hanya itu, demokrasi diharapkan mampu menjadikan negara kuat. Demokrasi di negara yang tidak kuat akan mengalami masa transisi yang panjang. Dan ini sangat merugikan bangsa dan negara. Demokrasi di negara kuat (seperti Amerika) akan berdampak positif bagi rakyat. Sedangkan demokrasi di negara berkembang seperti Indonesia tanpa menghasilkan negara yang kuat justru tidak akan mampu mensejahterakan rakyatnya.

Demokrasi di Indonesia memberikan harapan akan tumbuhnya masyarakat baru yang memiliki kebebasan berpendapat, berserikat, berumpul, berpolitik dimana masyarakat mengharap adanya iklim ekonomi yang kondusif. Untuk menghadapi tantangan dan mengelola harapan ini agar menjadi kenyataan dibutuhkan kerjasama antar kelompok dan partai politik agar demokrasi bisa berkembang ke arah yang lebih baik.

Iklan

metode dan media Pembelajaran


Metode dan Media Pembelajaran

Metode secara harfiah berarti cara. Dalam pemakaian umum, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis

Metodologi berasal dari bahasa Latin Meta dan Hodos meta artinya jauh (melampaui), Hodos artinya jalan (cara). Metodologi adalah ilmu mengenai cara-cara mencapai tujuan.
Ada bebrapa pendapat Pengertian Mengajar :
a. Arifin (1978) mendefinisikan bahwa mengajar adalah . suatu rangkaian

kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima,

menanggapi, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu .
b. Tyson dan Caroll (1970) mengemukakan bahwa mengajar ialah . a way

working with students A process of interaction . the teacher does something

to student, the students do something in return. Dari definisi itu tergambar

bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik

antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan.
c. Nasution (1986) berpendapat bahwa mengajar adalah . suatu aktivitas

mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan

menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar.
d. Tardif (1989) mendefinisikan, mengajar adalah . any action performed by an

individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in another

individual (the learner), yang berarti mengajar adalah perbuatan yang dilakukan

seseorang (dalam hal ini pendidik) dengan tujuan membantu atau memudahkan

orang lain (dalam hal ini peserta didik) melakukan kegiatan belajar.
e. Biggs (1991), seorang pakar psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga

macam pengertian yaitu :

Pengertian Kuantitatif dimana mengajar diartikan sebagai the transmission

of knowledge, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya

perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada

siswa dengan sebai-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya siswa bukan

tanggung jawab pengajar.

2. Pengertian institusional yaitu mengajar berarti . the efficient orchestration

of teaching skills, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara

efisien. Dalam hal ini guru dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan

berbagai teknik mengajar terhadap siswa yang memiliki berbagai macam

tipe belajar serta berbeda bakat , kemampuan dan kebutuhannya.

3. Pengertian kualitatif dimana mengajar diartikan sebagai the facilitation of

learning, yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa

mencari makna dan pemahamannya sendiri.
Dari definisi-definisi mengajar dari para pakar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mengajar adalah suatu aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga terjadi proses belajar dan tujuan pengajaran tercaqpai.
Dari paparan di aats makan pengertian metodolgi mengajar adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai

1. Prinsip-prinsip Metode Mengajar

Prinsip-prinsip metode Mengajar

Setiap metode mengajar senantiasa bertujuan, artinya pemilihan san

penggunaan sesuatu metode mengajar adalah berdasarkan tujuan yang

hendak dicapai dan digunakan untuk mencapai tujuan itu.

Pemilihan sesuatu metoda mengajar, yang menyediakan kesempatan belajar

bagi murid, harus berdasarkan kepada keadaan murid, pribadi guru dan lingkungan belajar.

Metode mengajar akan dapat dilaksanakan secara lebih efektif apabila

dibantu dengan alat bantu mengajar atau audio visual aids.

di dalam pengajaran tidak ada sesuatu metode mengajar yang dianggap

paling baik atau paling sempurna, metode yang baik apabila berhasil

mencapai tujuan mengajar.

Setiap metode mengajar dapat dinilai, apakah metode itu tepat atau tidak

serasi. Penilaian hasil belajar menetukan pula efisiensi dan efektivitasnya

sesuatu metode mangajar.

Penggunaan metode mengajar hendaknya bervaritas, artinya guru sebaiknya

menggunakan berbagai ragam metode sekaligus, sehingga murid

berkesempatan melakukan berbagai kegiatan belajar atau berbagai proses

belajar, sehingga mengembangkan berbagai aspek pola tingkah laku murid.

2. Jenis-jenis metode pembelajaran

Jenis-jenis metode pembelajaran :

1. Metode Ceramah

Metode ceramah yaitu sebuah metode pembelajaran dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Muhibbin Syah, (2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.
Beberapa kelemahan metode ceramah adalah :
a. Membuat siswa pasif
b. Mengandung unsur paksaan kepada siswa
c. Mengandung daya kritis siswa ( Daradjat, 1985)
d. Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak

didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya.
e. Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik.
f. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
g. Bila terlalu lama membosankan.(Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

Beberapa kelebihan metode ceramah adalah :
a. Guru mudah menguasai kelas.
b. Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar
c. Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar.
d. Mudah dilaksanakan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

Metode ceramah merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan telah lama dilaksanakan oleh guru. Cara menagjar dengan ceramah dapat dikatakan juga sebagai metode kuliah, merupakan suatu cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi, atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secra lisan.

2. Metode Tanya Jawab

Metode Tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat dua arah sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru-siswa. Guru bertanya siswa menjawab, atau siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antara guru dengan siswa.

3. Metode diskusi

Muhibbin Syah ( 2000 ), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama ( socialized recitation ).

Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk :
a. Mendorong siswa berpikir kritis.
b. Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas.
c. Mendorong siswa menyumbangkan buah pikirnya untuk memcahkan masalah

bersama.
d. Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk

memecahkan masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama.

Kelebihan metode diskusi sebagai berikut :
a. Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai

jalan
b. Menyadarkan ank didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling

mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh

keputusan yang lebih baik.
c. Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun

berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi. (Syaiful

Bahri Djamarah, 2000)

Kelemahan metode diskusi sebagai berikut :
a. tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar.
b. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
c. Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
d. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Syaiful Bahri

Djamarah, 2000)

Metode diskusi pada dasarnya adalah bertukar informasi, pendapat, dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih cermat tentang permasalahan atau topik yangsedang di bahas. Dalam diskusi, setiap orang diharapkan memberikan sumbanagn pikiran, sehingga dapat diperoleh pandangan dari berbagai sudut berkenaan dengan masalah tersebut. Dengan sumbangan dari setiap orang, kelompok diharapkan akan maju dari suatu pemikiran ke pemikiran yang lian, langkah demi langkah, sampai dihasilkannya pemikiran yangengkap mengenai permasalahan atau topik yang dibahas.

4. Metode Demontrasi

Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Muhibbin Syah ( 2000).

Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Syaiful Bahri Djamarah, ( 2000).

Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi adalah :
a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan .
b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri

siswa (Daradjat, 1985)

Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut :
a. Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atu kerja

suatu benda.
b. Memudahkan berbagai jenis penjelasan .
c. Kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui

pengamatan dan contoh konkret, drngan menghadirkan obyek sebenarnya

(Syaiful Bahri Djamarah, 2000).

Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut :
a. Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan

dipertunjukkan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan
c. Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa

yang didemonstrasikan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

5. Metode Eksperimen

Metode percobaan adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Syaiful Bahri Djamarah, (2000)
Metode percobaan adalah suatu metode mengajar yang menggunakan tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali. Misalnya di Laboratorium.
Kelebihan metode percobaan sebagai berikut :
a. Metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau

kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata

guru atau buku.
b. Anak didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi

(menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi.
c. Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-

terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang diharapkan

dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.
Kekurangan metode percobaan sebagai berikut :
a. Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan

mengadakan ekperimen.
b. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, anak didik harus

menanti untuk melanjutkan pelajaran.
c. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi.

Metode demonstrasi, keaktifan lebih banyak pada pihak guru, metode eksperimen langsung melibatkan para sisawa melakukan percobaan untuk mencari jawaban terhadap permasalahan yang diajukan. Eksperimen sering dilakukan dalam pengajaran bidang studi IPA, di mana metode ing dilakukan dalam pengajaran bidang studi IPA, di mana metode in

6. Metode Karyawisata

Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian dibukukan.

Kelebihan metode karyawisata sebagai berikut :
a. Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan l

lingkungan nyata dalam pengajaran.
b. Membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan

kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.
c. Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak.
Kekurangan metode karyawisata sebagai berikut :
a. Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
b. Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang.
c. Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan

utama, sedangkan unsur studinya terabaikan.
d. Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik anak

didik di lapangan.
e. Biayanya cukup mahal.
f. Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karyawisata dan

keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh.

Melalui metode ini siswa-siswa diajak mengnjungi tempat-tempat etrtentu di luar sekolah. Tempat-tempat yang akan dikunjungi dan hal-hal yang perlu diamati telah direncanakan terlebih dahulu, dan setelah selesai melakukan kunjungan, siswa-siswa diminta untuk membuat/menyampaikan laporan.

7. Metode Problem Solving

Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metoda berfikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mncari data sampai menarik kesimpulan.

8. Metode Kerja Kelompok

Yang dimaksud metode kerja kelompok yaitu saling membantu antara dua orang atau lebih, antara individu dengan kelomkpok dan antara kelompok dengan kelompok lainnya dalam melaksanakan tugas atau menyelesaikan problema yang dihadapi dan atau menggarap berbagai program yang bersifat prospektif guna mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan bersama (Abdul Majid, 2005 : 157)

9. Metode Latihan

Metode ini memanfaatkan siswa yang telah lulus atau berhasil untuk melatih temannya ia bertindak sebagai pelatih, dan pembimbing seorang siswa yang lain.ia dapat menentukan metode pembelajaran yang disukainya untuk melatih temannya tersebut. Setelah teman berhasil atau lulus, kemudian ia bertindak sebagai pelatih bagi seorang teman yang lain (Martinis Yamin, 2004 : 72)

10. Metode praktek

Metode ini dimaksudkan supaya mendidik dengan memberikan materi pendidikan baik menggunakan alat atau benda, seraya diperagakan, dengan harapan anak didik menjadi jelas sekaligus dapat mempraktekkan materi yang dimaksud (Abdul Majid, 2005 : 153).

11.Metode pemahaman dan penalaran

Metode ini dilakukan dengan membangkitkan akal dan kemampuan berpikir anak didik secara logis. Metode ini adalah metode mendidik dengan membimbing anak ndidik untuk dapat memahami problema yang dihadapi dengan menemukan jalan keluar yang benar dari berbagai macam kesulitan dengan melatih anak didik menggunakan pikirannya dalam mendata dan menginventarisasi masalah, dengan cara memilah- milah, membuang mana yang salah, meluruskan yang begkok, dan mengambil yang benar (Abdul Majid, 2005 : 146).

3. MEDIA PEMBELAJARAN

A. Konsep dan ciri-ciri media

Kata media berasal dari bahasa Latin Medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa media adalah suatu alat/ perantara yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan informasi dari sumber ke penerima sehingga dapat membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap.

Ciri-ciri umum media, yaitu:

  1. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagi hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan panca indera
  2. Media pendidikan mempunyai pengertian non-fisik yang dikenal sebagai software (perangkat lunak), yaitu kandungan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa
  3. Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio
  1. Media pendidikan memiliki alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun diluar kelas
  2. Media pendidikan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru-siswa dalam proses pembelajaran
  3. Media pendidikan dapat digunakan secara massa (mis: radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (mis: film, slide, video, OHP), atau perorangan (mis: modul computer, radio tape/ kaset, video recorder)
  4. Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.
  5. Media pengajaran identik artinya dengan pengertian keperagaan, yang artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan yang dapat diamati melalui panca indera kita.
  6. Tekanan utama terletak pada benda atau hal-hal yang bisa dilihat dan didengar.
  7. Media pengajaran digunakan dalam rangka hubungan (komunikasi) dalam kegiatan belajar-mengajar antara guru dan siswa
  8. Media pengajaran mengandung aspek sebagai alat dan sebagai teknik, yang sangat erat kaitannya dengan metoda mengajar
  9. Media pengajaran merupakan perantara yang digunakan dalam rangka pendidikan.

B. Manfaat media

Manfaat dan Nilai-nilai praktis dari penggunaan media pengajaran didalam proses belajar mengajar, yaitu:

  1. Memperjelas penyajian pesan dan informasi
  2. Meningkatkan dan mengarahkan minat dan perhatian anak
  3. Mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu
  4. Memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka
  5. Pasar pabrik
  6. Mempercepat gerakan yang terlalu lambat (mis: pertumbuhan tanaman), dan memperlambat gerakan yang terlalu cepat (mis: gerakan kapal, mobil, mesin)
  1. Membangkitkan motivasi belajar siswa
  2. Dapat mengontrol dan mengatur tempo belajar siswa
  3. Memungkinkan siswa berinteraksi dengan lingkungan
  4. Bahan belajar dapat diulang sesuai dengan kebutuhan
  5. Memungkinkan untuk menampilkan objek yang langka seperti peristiwa gerhana matahari
  6. Menampilkan objek yang sulit diamati oleh mata telanjang misalnya mempelajari bakteri dengan menggunakan mikroskop
  1. Meletakkan dasar-dasar befikir secara nyata oleh karenanya dapat mengurangi terjadinya verbalisme
  2. Meningkatkan kegiatan belajar sehingga hasil belajar semakin matap
  3. Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan belajar mandiri secara aktif
  4. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan
  5. Memberikan pengalaman yang tak mudah diperoleh dengan cara lain, serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna

C. Macam-macam media

  1. 1. Dilihat dari Jenisnya
    1. Media Auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. Misalnya: radio, cassette, phonograph, tape recorder, telepon, piringan audio, pita audio, public address system, dan lab bahasa. Contoh Audio semi gerak, antara lain: rekaman tulisan jauh, audio prints, tulisan jauh.

Media audio berfungsi menyalurkan pesan audio dari sumber ke penerima pesan. Pesan yang di sampaikan di tuangkan dalam lambang-lambang auditif verbal, non verbal maupun kombinasinya. Media audio berkaitan erat dengan indera pendengaran.

  1. Media Visual, yaitu media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Misalnya: film, foto, cetakan, film kartun, film bisu, ilustrasi, flash card, gambar pilihan dan potongan gambar, film bingkai, film rangkai, transparansi, proyektor tak tembus pandang, mikrofis, overhead proyektor, stereo proyektor, mikro proyektor, dan tachitopes, serta grafik, bagan, diagram dan skets, poster, gambar kartun, peta dan globe. Media visual gerak meliputi gambar-gambar proyeksi bergerak separti film bisu dan sebagainya. Media visual dalam kegiatan belajar mengajar berfungsi untuk :
    1. Mengembangkan kemampuan visual
    2. Mengembangkan imajinasi anak
      1. Membantu meningkatkan kemampuan anak terhapa hal-hal yan abstrak, atau peristiwa yang tidak mungkin dihadirkan di dalam kelas
      2. Mengembangkan kreativitas siswa.
  1. Media Audiovisual, yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.
  • Audiovisual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam. Misalnya: cetak suara, slow scan TV, time shared TV, TV diam, film rangkai bersuara, halaman bersuara, dan buku bersuara
  • Audiovisual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak. Misalnya: video cassette, film bersuara, pita video, film TV, TV, holografi, video tapes dan gambar bersuara.
  • Audiovisual murni, yaitu unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu sumber.
  • Misalnya: film video cassette
  • Audio tidak murni, yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda.
  • Misalnya: film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari tape recorder.
  1. 2. Dilihat dari daya liputannya

Daya liput yang luas tidak terbatas oleh tempat dan ruangan.

Contoh: radio dan televisi

Media yang mepunyai daya liput yang terbatas oleh ruangan dan tempat yang khusus.

Contoh film yang membutuhkan tempat gelap (film, sound slide, film rangkai)

Media untuk pengajaran individual.

Contoh: modul dan pengajaran melalui komputer

  1. 3. Dilihat dari bahan pembuatannya
    1. Media sederhana, yaitu media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya mudah, dan penggunaannya tidak sulit
    2. Media kompleks, yaitu media yang bahan dan alat pembuatnnya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan penggunaannya memerlukan keterampilan yang memadai

4. Media Serbaneka

Ditinjau dari perbedaan karakteristiknya dan karena tidak digolongkan ke dalam media audio, media visual, maupun media audio visual, dibedakan menjadi :

Boards dan Display, antara lain: chalk boards, bulletin boards, felt boards, magnetic boards, electric boards.

Media tiga dimensi, antara lain: realia, specimen, samples, artifacts, model dan mock up, diaroma, exhibits-display, kit dan loan boxes.

Teknik dramatisasi, antara lain: drama bebas, pantomime, bermain peran, demonstrasi, pawai sejarah, pedalangan/ panggung boneka, simulasi.

Sumber belajar pada masyarakat, antara lain : kerja lapangan, field trips, perkemahan.

Belajar terprogram

Komputer

D. Prosedur pemilihan media

Ada dua jenis pendekatan yang dapat digunakan yang dalam pemilihan media pembelajaran:

Pengajar memilih suatu media yang tersedia yang dapat dibeli di pasaran. Pengajar tinggal memilih dan membelinya, lalu menggunakannya dalam proses pembelajaran. Pengajar tidak perlu mempertimbangkan kesesuaian media dengan paengajaran dan kegunaan media tersebut bagi anak didik sebagai alat bantu belajar.

Pengajar terlebih dahulu menyusun desain pembelajaran secara cermat sesuai dengan tuntutan kurikulum, kemudian baru memikirkan media pembelajaran apa yang dianggap serasi dengan desain itu.

Gagne dan Briggs (1979; 195), langkah-langkah memilih media untuk pengajaran, yaitu:

Merumuskan tujuan pengajaran

Mengklasifikasi tujuan berdasarkan tipe belajar

Memilih peristiwa-peristiwa pengajaran yang akan berlangsung

Menentukan tipe atau perangsang untuk tiap peristiwa

Mendaftarkan media yang dapat digunakan pada setiap peristiwa dalam pengajaran

Mempertimbangkan (nilai kegunaan) media yang dipakai

Menentukan pilihan media yang akan digunakan

Menulis rasional (penalaran) memilih media tersebut

Menuliskan tata cara pemakaiannya pada setiap event

Menuliskan script (naskah) pembicaraan dalam penggunaan media

Kriteria pemilihan media sebagai berikut:

Tujuan

Jika yang diajarkan adalah suatu proses, media gerak seperti video, film atau TV merupakan pilihan sesuai. Jika yang diajarkan suatu keterampilan dalam menggunakan alat tertentu, benda sesungguhnya atau mock-up merupakan pilihan sesuai. Dan jika hanya ingin memperkenalkan faktor atau konsep tertentu media foto, slide atau realia mungkin pilihan tepat.

Karakteristik siswa

Berapa jumlahnya? Dimana lokasinya? Bagaimana gaya belajarnya? dan berbagai karakteristik lain yang mempengaruhi pemilihan media.

Karakteristik media

Dalam pemilihan media perlu mempertimbangkan kelebihan dan keterbatasan masing-masing media. Media foto misalnya kurang sesuai untuk mengajarkan gerakan.

Alokasi waktu

Cukupkah waktu untuk kegiatan perancangan, pengembangan, pengadaan ataupun penyajian?

Ketersdiaan

Tersediakah media yang diperlukan? Tersediakah layanan penjualnya? Adakah tenaga pengelolannya? Adakah aliran listrik atau bateri untuk mengoperasikannya?

Efektivitas

Apakah efektif untuk mencapai tujuan yang ditetapkan? Efektifkah untuk penggunaan jangka waktu lama?

Kompatibelitas

Apakah penggunaan media tersebut tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku? Tersediakah sarana penunjang pengoprasiannya? Praktiskah penggunaannya? Bagaimana daya tahannya?

Biaya

Cukupkah dana yang diperlukan untuk pengadaan, pengelolaan, dan pemeliharaannya? Bagaimana efisiensi dan efektivitas biayanya..

E. Penggunaan dan pengembangan media

Taksonomi Lesin, dkk (1992), prinsip-prinsip penggunaan dan pengembangan media, yaitu:

Media Berbasis Manusia

Media berbasis manusia mengajukan dua teknik yang efektif, yaitu rancangan yang berpusat pada masalah dan bertanya ala scotrates. Rancangan yang berpusat pada masalah dibangun berdasarkan masalah yang dibangun yang harus dipecahakan oleh pelajar.

Langkah-langkah rancangan untuk jenis pengajaran berbasis manusia, yaitu:

a. Merumuskan masalah yang relevan

b.Mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang terkait untuk memecahkan masalah. Sumber untuk menyajikan pengetahuan adalah buku teks dan ceramah

c. Ajarkan mengapa pengetahuan itu penting dan bagaimana pengetahuan itu dapat diterapkan untuk pemecahan masalah

d.Tuntun eksplorasi siswa

e. Kembangkan masalah dalam konteks yang beragam dengan tahapan tingkat kesulitan

f. Nilai pengetahuan siswa dengan memberikan masalah baru untuk dipecahkan

Salah satu faktor penting dalam pengajaran dengan media berbasis manusia adalah rancangan pelajaran yang interaktif.

Langkah-langkah untuk mengembangkan pelajaran interaktif, yaitu:

  1. Mengidentifikasi pokok bahasan pelajaran
  2. Mengembangkan sajian pengajaran yang mencakup semua informasi yang harus dikuasai siswa
  3. Mengamati keseluruhan penyajian dan menyisipkan dialog-dialog interaktif
  4. Menentukan jenis informasi yang diinginkan oleh siswa
  5. Menentukan pesan-pesan apa yang ingin disampaikan dengan kegiatan interaktif
  6. Menetapkan butir-butir diskusi penting

Beberapa pengajaran jenis interaktif, yaitu:

Pengajaran partisipatori, yaitu jenis pengajaran yang dimulai dengan sesi curah pendapat dari seluruh siswa. Guru kemudian mengelompokkan, mengevaluasi, dan membahas hasil curah pendapat itu bersama dengan siswa.

Pengajaran main peran, yaitu dimulai dengan main peran yang diberi tahapan dengan pelaku yang terdiri atas siswa dengan sukarela. Setelah bermain peran, butir-butir informasi penting dibahas dan akhirnya disimpulkan.

Pengajaran kuis tim, yaitu dimulai dengan mengumumkan bahwa akan ada kuis pada akhir pelajaran.

Pengajaran kooperatif, yaitu menciptakan kelompok untuk saling mengajar pengetahuan atau keterampilan khusus.

Debat struktur, yaitu kegiatan yang diikuti dengan pembahasan oleh guru mengenai isu yang diperdebatkan.

Pengajaran 99-detik, yaitu siswa mengorganisasikan secara singkat informasi ke dalam penyajian yang tidak lebih dari 99-detik.

Media berbasis Cetakan

Materi pengajaran yang berbasisi cetakan yang paling dikenal adalah buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan lembaran lepas.

Enam elemen yang perlu diperhatikan pada saat merancang teks berbasis cetakan, yaitu:

  1. Konsistensi: meliputi format halaman, cetakan huruf,
  2. ukuran huruf, jarak spasi
  3. Format: meliputi satu kolom untuk paragraf panjang,
  4. dua kolom untuk tulisan pendek
  5. Organisasi: menginformasikan kapada siswa/ pembaca, informasi mudah diperoleh, kotak-kotak digunakan untuk memisahkan teks
  6. Daya tarik: meliputi perkenalan setiap bab
  7. Ukuran huruf: harus sesuai dengan siswa, pesan, dan lingkungannya
  8. Ruang ( spasi ) kosong: sesuaikan spasi antar paragraph

Beberapa petunjuk dalam menyiapkan media teks berbasis interaktif, yaitu:

Sajikan informasi dalam jumlah yang selayaknya dapat dicerna, diproses, dan dikuasai

Pertimbangkan hasil pengamatan dan analisis kebutuhan siswa dan siapkan latihan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut

Perimbangan hasil analisis respons siswa

Siapkan kesempatan bagi siswa untuk dapat belajar sesuai kemampuan dan kecepatan mereka

Gunakan beragam jenis latihan dan evaluasi.

Contoh: main peran, studi kasus, berlomba, atau simulasi.

Media berbasis Visual

Contoh media berbasis visual, yaitu:

Gambar representasi: gambar, lukisan, atau foto

Diagram

Peta

Grafik: tabel, grafik, dan chart ( bagan )

Media berbasis Audio-Visual

Media audio visual yaitu media visual yang menggabungkan penggunaan suara memerlukan pekerjaan tambahan (stroryboard/ penulisan naskah) untuk memproduksinya.

Media berbasis Komputer

Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran, yaitu:

  1. Merencanakan, mengatur dan mengorganisasikan, dan

menjadwalkan pengajaran

  1. Mengevaluasi siswa (tes)
  2. Mengumpulkan data mengenai siswa
  3. Melakukan analisis statistik mengenai data

pembelajaran

  1. Membuat catatan perkembangan pembelajaran

(kelompok atau perseorangan )

Interaksi dalam lingkungan pengajaran berbasis komputer meliputi tiga unsur, yaitu:

  1. Urutan-urutan instruksional yang dapat disesuaikan
  2. Respons atau pekerjaan siswa
  3. Umpan balik yang dapat disesuaikan

F. Evaluasi media

Tujuan evaluasi media, yaitu:

  1. Menentukan apakah media pengajaran itu efektif
  2. Menentukan apakah media itu dapat diperbaiki atau

ditingkatkan

  1. Menetapkan apakah media itu cost-effective dilihat dari

hasil belajar siswa

  1. Memilih media pengajaran yang sesuai untuk dipergunakan dalam proses belajar di depan kelas
  2. Menentukan apakah isi pelajaran sudah tepat disajikan dengan media itu
  3. Menilai kemampuan guru menggunakan media pengajaran
  4. Mengetahui apakah media pengajaran itu benar-benar memberi sumbangan terhadap hasil belajar seperti yang dinyatakan
  5. Mengetahui sikap siswa terhadap media pengajaran

Evaluasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti diskusi kelas atau kelompok interview perorangan, observasi mengenai perilaku siswa, dan evaluasi media yang telah tersedia. Kegagalan mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan tentu saja merupakan indikasi adanya ketidakberesan dalam proses pengajaran khusunya penggunaan media pengajaran.

Walker dan Hess (1984: 204), memberikan kriteria dalam mereview perangakat lunak pengajaran yang berdasarkan kepada kualitas, yaitu:

Kualitas isi dan tujuan

  1. Ketepatan
  2. Kepentingan
  3. Kelengkapan
  4. Keseimbangan
  5. Minat/ perhatian
  6. Keadilan
  7. Kesesuaian dengan situasi siswa

Kualitas intruksional

  1. Memberikan kesempatan belajar
  2. Memberikan bantuan untuk belajar
  3. Kualitas memotivasi
  4. Fleksibilitas instruksionalnya
  5. Hubungan dengan program pengajaran lainnya
  6. Kualitas sosial interaksi intruksionalnya
  7. Kualitas tes dan penilaiannya
  8. Dapat memberi dampak bagi siswa
  9. Dapat membawa dampak bagi guru dan

pengajarannya

Kualitas teknis

  1. Keterbacaan
  2. Mudah digunakan
  3. Kualitas tampilan
  4. Kualitas penanganan jawaban
  5. Kualitas pengelolaan programnya
  6. Kualitas pendokumentasiannya

Sumber : media pendidikan

filsafat pendidikan


FILSAFAT PENDIDIKAN

Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum, maka salam membahas filsafat pendidikan akamn berangkat dari filsafat. Dalam arti, filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab, aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri. Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu filsafat pendidikan progresif dan filsafat pendidikan Konservatif. Yang pertama didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau. Yang kedua didsari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realism religius. Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme,perenialisme,dansebagainya.
Berikut aliran-aliran dalam filsafat pendidikan:

1. filsafat Pendidikan Idealisme

Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai \ adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara \ fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali

2. Filsafat Pendidikan Realisme

Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dn mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia.
Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill

3. Filsafat Pendidikan Materialisme

Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural.Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach

4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme

Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami.Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.

5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme

Filsafat ini memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas.
Beberapa tokoh dalam aliran ini : Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich

6. Filsafat Pendidikan Progresivisme

Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatugerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff

7. Filsafat Pendidikan esensialisme

Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda.
Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.

8. Filsafat Pendidikan Perenialisme

Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji.
Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler

9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme

Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil.Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

Sumber : Filsafat pendidikan

Belajar dan Pembelajaran


BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A. Bentuk-Bentuk Belajar

Gage(1984)mengemukakan bahwa ada 5 bentuk belajar, yaitu:

a).Belajar responden

Dalam belajar semacam ini,suatu respons di lakukan oleh suatu stimulus yang telah di kenal, beberapa contoh belajar responden adalah hasil-hasilpenelitian yang dilakukan oleh ahli psikologi rusia yang terkenal ivan povlov . seekor anjing di beri sebuk daging dan sambil makan keluar air liurnya .serbuk anjing disebut stimulus tidak terkondisi (uncnditioned stimulus,us) dan tindakanmengeluarkan air liur di sebut respons terhadap penyajian stimulus ini tidak merupakan beljar,tetapi terjadi secara instintif.

Sekarang lampu kita hidupakan di tempat anjing itu. Menghidupakan lampu mempunyai efek yang minimal terhadap keluar air liurnya anjing itu. Kemudian kita nyalakan lampu tepat sebelum memberikan serbuk daging itu pada anjing(us).jika hal ini kita lakukan beberapa kali, dan kemudian, pada suatu percobaan, tanpa memberikan serbuk daging, kita lihat timbulnya respons mengeluarkan airu liur. Cahaya,yang sebelumnya merupakan stimulus yang netral, sekarang menjadi stimulus terkondisi(conditioned stimulus,CS), dan respons yang ditimbulkan disebut respons terkondisi(conditioned response,CR). Pada diri seorang anak yang pada hari pertama masuk sekolah,mungkin timbul perasaan takut,disebabkan oleh sikap guru yang tidak ramah atau ejekan teman-temannya.model belajar responden menerangkan bahwa sekolah dan semua komponen-komponennya suatu ketika menimbulakn rasa takut, sebab semua ini telah terkait dengan stimulus-stimulus yang menginduksi perasaan negatif.

Perasaantakut akan simbolyang timbulpada siswa bila mereka menghadapi untuk pertamakalinya simbol-simbol matematika seperti α,β,atau y=ax2+bx+c. Melihat simbol-simbol yang tidak di kenal, yang sebelumnya telah di pasangkan dengan bidang studi yang sulit, menimbulkan emosi negatif dalam diri siswa dan inilah yang kerap kali menghalangi-menghalangi belajar efektif. Sesungguhya, apa aja dalam lingkungan dapat menjadi berpasangan dengan stimulus yang menimbulakn respons-respons emosional. Kata-kata guru yang ramah atau kata-kata guru yang kasar dapat menimbulkan perasaan takut atau perasaan senang. Bentuk belajar semacam ini kerap kali terjadi tanpa di sadari oleh siswa, jadi sulit bagi siswa untuk mengamati bagaimana respons-respons tertentu itu diperoleh. Seorang guru yang meneliti peristiwa-peristiwa belajar dengan model belajar responden, mungkin dapat menolong para siswa memahami perasaan mereka, mencapai hal-hal beljar yang lebih memuaskan,dan mencegah dari belajar respons respons yang tidak diinginkan.

b).Belajar Kontiguitas.

Bahwa pemangsa stimulus tidak-terkondisi dan stimulus terkondisi merupakan suatu syarat untuk belajar responden, beberapa teoriwan belajar mengemukakan kejadian-kejadian apa pun dapat menghasilkan belajar, tidak diperlukan hubungan stimulus tak terkondisi respons. Asosiasi dekat(contiguos) sederhana antara suatu stimulus dan suatu respons dapat menghasilakn suatu perubahan dalam perilaku.kekuatan belajar kontiguitas sederhana dapat dilihat bila seseorang memberikan respons terhadap pernyataan-pernyataan yang belum lengkap di bawah ini:

Sembilan kali lima sama dengan..

Cita-citanya setinggi

Anak itu sepandai.

Dengan mengisikan kata-kata empat puluh lima,langit,ayahnya, ditunjukan bahwa kita dapat belajar sesuatu karena peristiwa-peristiwa terjadi berdekatan pada waktu yang sama .kadang-kadang diperlukan pengulangan dari peristiwa-peristiwa itu, tetapi ada kalanya belajar terjadi tanpa di ulang . bahwa manusia dapat berubah sebagai hasil diri mengalami peristiwa-peristiwa yang berpasangan.

c).Belajar Operant

Belajar sebagai akibat reinforsemen merupakan bentuk belajar yang lain yang banyak diterapkan dalam teknologi modifikasi tertentu. Bentuk belajar ini disebut terkondisi operant, sebab perilaku yang diinginkan timbul secara spontan tanpa dikeluarkan secara instinkif oleh stimulus apa pun, waktu organismaberoperasiterhadap lingkungan. Berbeda dengan belajar responden, perilaku tidak mempunyai stimulus fisiologis yang dikenal. Karena peristiwa-peristiwa yang mengalami reinforsemen dapat menghasilakn efek-efek yang begitu penting, apakah reinforsemen? Reinforser ialah setiap stimulus yang meningkatkan kekuatan suatu perilaku (Gage,1984). Menurut slavin (1988)reinforser didefinisikan sebagai suatu konsekuensi yang memperkuat (berarti memperkuat frekuensi) perilaku-perilaku.

Pada dasanya, setiap perilaku operant dapat ditimbulkan kerap kali dengan pemberian reinforsemen segera setelah timbulnya perilaku itu. Pada manusia, berlaku hal yang sama. Berbagai perilaku manusia dapat ditimbulkan berulang kali dengan adanya reinforsemen, segera setelah ada respons.respons itu dapat berupa :suatu pernyataan, suatu gerakan,suatu tindakan.

d).Belajar Observasional

Konsep belajar ini mengemukakan, bahwa orang dapat belajar dengan mengamati orang lain melakukan apa yang akan dipelajari. Karena itu perlu diperhatikan, agar anak-anak lebih banyak diberi kesempatan untuk mengamati model-model perilaku yang baik atau yang kita inginkan, dan mengurangi kesempatan-kesempatan yang tidak baik.

e).Belajar kognitif

Beberapa ahli psikologi dan pendidikan berpendapat, bahwa konsepsi-konsepsi tentang belajar yang telah dikenal, tidak satu pun yang mempersoalkan proses-proses semacam itu menyangkutinsight , atau berpikir dan reasioning , atau menggunakan logika deduktif dan induktif . semua pendekatan-pendekatan belajar perilaku tampaknya tidak mengindahkan persepsi siswa insait (insight) pada ,dan kognisi dari hubungan-hubungan esensial antara unsur-unsur dalam situasi ini. proses-proses meneliti yang diabaikan oleh para penganut psikologi perilaku ini,yang menjadi intin dalam teori belajar kognitif.

B. Teori-Teori Belajar

Sebelum membahas teori-teori belajar yang dewasa ini , terlebih dahulu akan dikemukakan teori belajar yang dikembangkan sebelum abad 20.dan teori yang dikembangkan selama abad 20,sekedar untuk memberikan pandangan umu yang sedikit banyak merupakan historis.

1. Teori belajar sebelum abad ke-20

Sebelum abad ke-20 telah berkembang beberapa teori belajar, yaitu teori disiplin mental, teori pengembangan alamiah dan teori apersepsi. Ketiga teori belajar ini mempunyai ciri yang sama, yaitu teori-teori itu di kembangkan tanap di landasi eksperimen, itu berarti bahwa dasar orientasinya ialah filosofis atau spekulatif . teori disiplin mental (plato,aristoteles)menganggap bahwa dalam belajar mental siswa di disiplinkan atau di latih . dalam mengajar siswa guru pengikut teori ini melatih otot-ototmental siswa. Guru guru ini mula-mula akan mendaftarkan kata-kata yang diinginkan guru dengan menggunakan kartu dimanatertulis kata itu, selanjutnya guru melatih siswa mereka , dan setiap hari dites dan siswa yang belum pandai harus kembali sesudah jam sekolah untuk dilatih kembali.

Teori perkembangan alamiah berlawanan sekali dengan teori disiplin mental. Menurut teori ini , anak itu akan berkembang secara alamiah . para guru yang menganut teori ini mula-mula menunggu siswa- siswa menyatakan keinginannya untuk belajar membaca . jadi guru guru lebih mementingkan perkembangan kematangan dari pada menanamkan keterampilan keterampilan tertentu , lagi pula guru menginginkan agar belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak .

Teori apersepsi , belajar merupakan suatu proses terasosiasinya gagasan gagasan baru dengan gagasan gagasan lama yang sudah membentuk pikiran . apesepsi berlawanan dengan disiplin mental dan pengembangan alamiah , merupakan suatu asosianisma mental yang dinamis di dasarkan pada premis fundamental , bahwa tidak ada gagasan bawaan (sejak lahir); apa pun yang di ketahui seseorang datang dari luar dirinya .johann friedrich herbart (1776-1841) yang pertama kali mengembangkan psikologi belajar secara sistematis dari teori tabula rasa mengenai pikiran.

2. Teori-teori Belajar Abad ke-20

Teori-teori belajar yang dikembangkan selam abad ke-20 dikelompokkan menjadi du keluarga, yaitu keluarga perilaku (behavioristik) yang meliputi teori-teori stimulus-respons (S-R) conditioning, dan keluarga Gestalt-field yang meliputi teor-teori kognitif.

Menurut teori-terori perilaku, belajar merupakan suatu perubahan perilaku yang dapat diamati, yang terjadi melalui terkaitnya stimulus-stimulus dan respons respons menurut prinsip prinsip melanistik. Jadi , belajar melibatkan terbetuknya hubungan-hubungan tertentu antara satu seri stimulus-stimulus dan respons-respons. Stimulus, yaitu penyebab belajar, adalah agen-agen lingkungan, yang bertindak terhadap suatu organisma, yang menyebabakan organisma itu memberikan respons, atau meningkatkan probabilita terjadinya respons tertentu. Respons-respons, yaitu ajibat-akibat atau efek-efek, merupakan reaksi-reaksi fisik suatu organisma terhadap baik stimuluseksternal maupun stimulus internal. Para penganut teori-teori perilaku ini berpendapat, bahwa sudah cukup bagi siswa untuk mengasosiasikan stimulus-stimulus dan respons-respons, dan diberi reinforsemen bila ia memberikan respons-respons yang benar. Mereka tidak mempersoalkan apakah yang terjadi dalam pikiran siswa sebelum dan sessudah respons dibuat.

Nama-nama yang berhubungan dengan teori perilaku ini ialah: ahli fisiologi dan farmakologi rusia ivan petrovich pavlov (1849-1936), E.L .Thorndike, E.R.Guthrie, B.F. skinner, R.M.Gagne, A. Bandura, dan beberapa lainnya.

Menurut teori-teori Gestalt-field, belajar merupakan suatu proses perolehan atau perubahan insait-insait (insights), pandangan pandangan, harapan harapan, atau pola berpikir. Dalam mempermasalahkan belajar bagi siswa, para penagnut teori ini lebih menyukai istilah-istilah orang dari pada organisma, lingkungan psikologi dari pada lingkungan fisik , dan interaksi daripada aksi. Mereka berpendapat bahwa konsep-konsep orang, lingkungan psikologi, dan interaksi lebih memudahakan para guru dalam memberikan proses-proses belajar. Konsep-konsep ini memungkinkan guru untuk melihat seseorang, lingkungannya, dan interaksi dengan lingkungannya semuanya itu terjadi pada waktu yang sama; inilah artinya field.

Selanjutnya para ahli ini yakin, bahwa perilaku yang tidak tampak atau yang tidak dapat diamati adalah mungkin untu dipelajari dengan cara ilmiah, misalnya pikiran-pikiran (thoughts). Oleh karena memusatkan diri pada menganalisa proses-proses kognitif, maka prinsip dan kesimpulan yang mereka sarankan disebut teori-teori kognitif.

Para penganut teori-teori kognitif, berlawanan dengan para penganut teori-teori perilaku, memberi perhatian pada proses-proses mental. Mereka ingin menemukan bagaimana impresi-impresi indera dicacat dan disimpan dalam otak, dan bagaimana impresi-impresi ini kemudian digunakan dalam memecahkan masalah. Mereka ingin mengetahui apakah yang terjadi dalam pikiran siswa waktu seorang guru mendemonstrasikan bagaimana menghitung luas segitiga, bagaimana terjadinya garam dari asam dan basa, bagaimana menghitung denyut jantung, misalnya. Atau apakah yang terjadi dalam pikiran siswa waktu dia menyelesaikan soal-soal dalam ujian.

Pengikut-pengikut teori perilaku menafsirkan belajar sebagai perubahan-perubahan tentang kekuatan variabel-variabel hipotesis yang disebut hubungan-hubungan S-R atau stimulus/respons, kekuatan-kekuatan kebiasaan atau kecenderungan-kecenderungan perilaku. Para pengikut teori-teori Gestalt mendefinisikan belajar sebagai reorganisasi perseptual untuk memperoleh pemahaman. Jadi seorang guru yang menganut teori perilaku berkeinginan untuk mengubah perilaku-perilaku siswanya yang tampak secara signifikan, sedangkan guru yang berorientasikan teori Gestalt atau menganut teori kognitif berkeinginan untuk menolong para siswanya mengubah pemahaman mereka tentang masalah-masalah dan situasi-situasi secara signifikan.

C. Evolusi teori-teori belajar perilaku

Semua ahli psikologi yang mendukung pandangan perilaku berpndapat, bahwa mereka yang meneliti belajar hendaknya mendasarkan kesimpulan-kesimpulan mereka atas observasi tentang perilaku eksternal dan terbuka dari organisme. Tetapi mereka berbeda dalam dua hal, yaitu dalam bagaimana mereka meneliti belajar, dan bentuk-bentuk belajar yang mereka analisis. Tiga teori belajar yaitu:yang menyakut belajar responden, dan dikenal dengan teori classical condotioning dari pavlov, teori operant conditioning dari skinner, dan teori observasional atau juga di kenal dengan teori belajar sosial yang dihubungkan dengan nama bandura.

1.Ivan pavlov :Classical conditioning

dalam tahun-tahun terakhir dari abad ke-19 dan tahun-tahun permulaan abad ke-20 pavlov dan kawankawannya mempelajari proses pemcernaan pada anjing. Selam penelitian, mereka memperhatikan perubahan dalam waktu dan kecepatan pengeluaran air liur. Dalam eskpeirmen-eksperimen ini pavlov dan kawannya menunjukkan, bagaimanabelajar dapat mempengaruhiperilku yang selama ini disangka refleksi dan tidak dapat dikendalikan.

Pentingnya studi yang dilakukan oleh pavlov terletak pada metode yang digunakan serta hasil-hasil yang diperolehnya (Slavin,1988). Alat-alat yang digunakan dalam berbagai eksperimen memperlihatkan bagaimana pavlov dan kawan-kawanya dapat mengamati secara teliti dan mengukur responssubjek dalam eksperimen itu. Penekanan yang diberikan pavlov pada observasinya dan pengukuran yangtelit, dan eksplorasinya secara sistematis tentang berbagai aspek belajar, menolong kemajuan studi ilmiah tentang belajar.tetapi, penemuan-penemuan pavlov hanya sedikit diterapkan pada beljar di sekolah.

  1. 2. E.L.Thorndike: Hukum pengaruh

hasil studi pavlov merangsang poara peneliti di amerika serikat, seperti E.Lthorndike (Hilgard and bower,1966). Dalam studi Thondike terdahulu, ia memandang perilaku sebagai suatu respons terhadap stimulus-stimulus dalam lingkungan . pandangan ini, bahwa stimulus-stimulus dapat mengeluarkan respons-respons, merupakan titik tolak dari teori stimulus-respons yang dikenal sekarang. Seperti para ahli teori perilaku sebelumnya, Thorndike menghubungkan perilaku pada refleks-refleks fisik. Refleks tertentu, seperti sekonyong-konyong mengangkat lutut ke atas bila lutut itu di pukul, terjadi tanpa diproses di dalam otak. Dihipotesiskan, bahwqa perilaku yang lain juga ditentukan secara refleks oleh stimulus yang ada di lungkungan, dan bukan oleh pikiran yang sadar atau tidak sadar.

Dalam sejumlah eksperimen-eksperimen,Thorndike menempatkan kucing-kucing dalam kotak-kotak. Dari kotak-kotak ini kucing-kucing itu harus keluar unutk memperoleh makanan. Ia mengamati, bahwa sesudah beberapa selang waktu kucing-kucing itu mempelajari cara mengeluarkan diri lebih cepat dari kotak-kotak itu dengan mengulangi perilaku-perilaku yang mengarah pada keluar, dan tidak mengulangi perilaku-perilaku yang tidak efektif. Dari eksperimen-eksperimen ini, Thorndike mengembangkan hukumya, yang di kenal dengan hukum pengaruh atau law of effect.

Hukum pengeruh Thorndike mengemukakan, bahwa jika suatu tindakan diikuti oleh suatu perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan bahwa tindakan itu di ulangi dalam situasi-situasi yang mirip, akan meningkat. Tetapi, bila suatu perilaku diikuti oleh suatu perubahan yang tidak memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan-kemungkinan bahwa perilaku itu di ulang, akan menurun. Jadi, konsekuensi-konsekuensi dari perilaku seseorang pada suatu saat, memegang peranan penting dalam menentukan perilaku orang itu selanjutnya.

  1. B.F.Skinner : Operant Conditioning

Pavlov pada umumnya memusatkan pada perilaku yang disangkanya di tampilmkan stimulus-stimulus kuhusus. Tetapi skinner berpendapat, bahwa perilaku-perilaku semacam itu mewakili hanya sebagian kecil dari semua perilaku-perilaku. Ia menyarankan suatu kelas lain perilaku, yang disebutnya perilaku-perilaku operant, sebab perilaku-perilaku ini beroperasi terhadap lingkungan tanpa adanya stimulus-stimulus tak terkondisi apapun, seperti makanan misalnya. Studi Skinner terpusat pada hubungan antara perilaku dan konsekuensi-konsekuensinya. Sebagai contoh misalnya, bila perilaku seseorang segera diikuti oleh konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan, orang itu akan terlibat dalam perilaku itu lebih kerap kali. Penggunaan konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan dan tak menyenangkan untuk mengubah perilaku disebut operant conditioning.

Eksperimen Skinner dipusatkan pada penempatan subjek-subjek dalam situasi yang terkontrol, dan mengamati perubahan dalam perilaku subjek-subjek itu yang dihasilkan dengan mengubah secara sistematis konsekuensi-konsekuensi dari perilaku subjek-subjek tersebut. Kontribusi Skinner, seperti halnya dengan Pavlov, bukan terdiri hanya atas apa yang telah ditemukannya, melainkan juga atas metode-metode yang digunakannya.

Skinner terkenal dengan pengembangan dan penggunaan aparatus yang biasa disebut kotak Skinner. Dengan kotak ini ia meneliti perilaku hewan, biasanya tikus dan burung merpati. Pekerjaan Skinner dengan tikus dan burung merpati menghasilkan sekumpulan prinsip-prinsip tentang perilaku yang telah ditunjang oleh beratus-ratus studi yang melibatkan manusia maupun hewan.

Teori Pembelajaran

A.Peranan Teori Dalam Pembelajaran Dan Pengajaran

Mempelajari teori pembelajaran mempunyai beberapa kepentingan, baik aspek individu maupun masyarakat. Dari segi individu pembelajaran merupakan salah satu upaya individu untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga memperoleh kualitas hidup yang lebih baik dan efektif. Dari segi masyarakat, pembelajaran merupakan kunci dalam pemindahan kebudayaan dari satu generasi ke generasi baru. Dengan pembelajaran, dimungkinkan adanya penemuan baru dan pengembangan dari hasil generasi lama.

Pengetahuan tentang pembelajaran dapat diperoleh dari berbagai sumber, antara lain: a. Filsafat, b. Adat Istiadat dan kebudayaan tradisional, c. Penelitian Empiris, dan d. Teori-Teori Pembelajaran

Teori merupakan suatu perangkat prinsip-prinsip yang terorganisasi mengenai peristiwa-peristiwa tertentu dalam lingkungan. Karakteristik suatu teori ialah: a. Memberikan kerangka kerja konseptual untuk suatu informasi, dan prinsip yang dapat diuji.

Ada empat fungsi umum suatu teori menurut Patrick Supper, 1974, yaitu:

  1. Teori terdiri atas prinsip-prinsip yang dapat diuji sehingga dijadikan kerangka untuk melaksanakan penelitian.
  2. Teori memberikan kerangka kerja bagi informasi yang spesifik.
  3. Menjadikan hal-hal yang bersifat kompleksmenjadi lebih sederhana.
  4. Menyusun kembali dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Disamping ke-empat fungsi tersebut, masih dapat ditambahkan satu fungsi lagi, yaitu merupakan model-model kerja untuk hal-hal yang bersifat kompleks.

Fungsi teori pembelajaran dalam pendidikan adalah:

  1. Memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pengajaran.
  2. Menilai hasil-hasil yang telah dicapai untuk digunakan dalam ruang kelas.
  3. Mendiagnosis masalah-masalah dalam ruang kelas.
  4. Menilai hasil penelitian yang dilaksanakan berdasarkan teori-teori tertentu.

Beberapa teori pembelajaran yang akan dibahas disini adalah teori-teori pembelajaran menurut pendekatan Behaviorisme, Gestalt, Kognitif, dan teori-teori yang berkembang kemudian.

Teori Pembelajaran Behaviorisme

Behaviorisme berpendapat bahwa perilaku terbentuk melalui perkaitan antara rangsangan dengan tindak balas. Menurut pendekatan ini, perilaku adalah sesuatu yang dapat diamati dengan alat indera. Pembelajaran merupakan proses pembentukan perkaitan antara rangsangan dan tindak balas. Dengan demikian, maka perubahan perilaku itu lebih banyak karena pengaruh lingkungan. Teori pembelajaran Behaviorisme dibedakan antara teori pelaziman klasik dan teori pelaziman operant.

1.Teori pelaziman klasik

Teori pelaziman klasik dipelopori oleh IP Pavlov, seorang ahli fisiologi dari Rusia. Ia melakukan percobaannya dengan seekor anjing untuk melihat hubungan antara rangsangan dengan tindak balas. Dalam percobaan Pavlov mengkaji keterkaitan antara tak terlazim atau tindak balas alami, kemudian melihat keterkaitan antara rangsangan terlazim dengan tindak balas tertentu. Dalam percobaan itu, Pavlov menunjukkan makanan kepada anjing dan mengamati tindak balas anjing itu yang berupa keluarnya cairan atau air liur dari mulutnya. Setiap diperlihatkan makanan, dipasangkan bersamaan dengan keluarnya cahaya merah. Seperti biasa air liur anjing pun keluar. Percobaan ini membuktikan bahwa suatu rangsangan tertentu atau cahaya merah akan mengakibatkan suatu tindak balas tak terlazim, yaitu keluar air liur, karena bersamaan dengan rangsangan tak lazim atau alami yaitu makanan. Proses memasangkan antara makanan dengan cahaya merah disebut proses pelaziman.

Dari percobaan itu, Pavlov mengemukakan beberapa konsep atau prinsip pembelajaran, yaitu:

  1. Pergetaran

Konsep ini menyatakan bahwa suatu rangsangan tak terlazim atau alami dapat membangkitkan reaksi sel-sel tertentu, sehingga dapat menghasilkan tindak balas. Misalnya makanan menimbulkan tindak balas keluarnya air liur.

  1. Penularan

Yaitu terjadinya reaksi dari sel-sel lain yang berada di sekitar kawasan sel-sel yang berkenaan dengan rangsangan tak terlazim. Misalnya ketika melihat makanan, selain keluar air liur, maka keluar pula keringat.

  1. Generalisasi Rangsangan

Yaitu keadaan dimana organisme atau individu memberikan tindak balas yang sama terhadap rangsangan tertentu yang memiliki kesamaan walau tidak serupa. Misalnya memberikan tindak balas yang sama terhadap bermacam-macam makanan yang memiliki kesamaan.

  1. Penghapusan

Suatu tindak balas akan hilang secara perlahan-lahan apabila makin berkurangnya keterkaitan dengan rangsangan tak terlazim atau alami. Misalnya, tindak balas keluarnya air liur makin berkurang dan hilang sama sekali setelah tidak dipasangkan dengan pemberian makanan.

Konsep-konsep yang dihasilkan dari percobaan Pavlov banyak memberikan landasan bagi proses pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam pembentukan kebiasaan.

Bagi pembelajaran dalam pendidikan, teori pavlov ini banyak memberikan sumbangan dalam hal pembentukan kebiasaan, pentingnya latihan, pentingnya motivasi, proses generalisasi.

Teori lain dalam kelompok teori pelziman klasik ialah JB watson. Teori Watson pada dasarnya adalah teori yang dikemukakan oleh pavlov, hanya dengan beberapa penambahan. Watson berpendapat bahwa perilaku terbentuk melalui pembentuk tindak balas. Manusia dilahirkan dengan tindak pantulan (reflex) yang dihadapkan dengan rangsangan-rangsangan tertentu. Proses pembelajaran adalah bagaimana melatih reflex-reflex itu dengan memberikan rangsangan tertentu sehingga membentuk tindak balas tertentu sesuai dengan yang dikehendaki.

Ada dua prinsip dasar yang dikemukakan oleh Watson, yaitu pronsip kekerapan dan prinsip kebaruan.prinsip kekerapan menyatakan bahwa makin kerap individu bertindak balas terhadap suatu rangsangan, apabila kelak muncul lagi rangsangan itu, maka akan lebih besar kemungkinan individu memberikan tindak balas yang sama terhadap rangsangan itu. Atas dasat prinsip ini, maka dalam proses pembelajaran sangat diperlukan adanya latihan yang kerap dilakukan. Prinsip kebaruan, menyatakan bahwa apabila individu membuat tindak balas yang baru terhadap rangsangan, maka apabila kelak muncul lagi rangsangan itu, besar kemungkinan individu akan bertindak balas dengan cara yang serupa kepada rangsangan itu .

Tokoh berikutnya dalam kelomp[ok ini ialah EdwinGuthrie dengan teorinya yang disebut Contiguty theory. Pada dasarnya teori Guthrie ini tidak banyak berbeda dengan teori Watson, hanya ia tidak banyak membincangkan masalah rangsangan terlazim. Teori Guthrie didasari oleh suatu hukum pembelajaran yang disebutlaw of cintiguity yang menyatakan bahwa suatu kombinasi rangsangan yang dipasangkan dengan suatu gerakan akan diikuti oleh gerakan yang sama apabila rangsangan itu muncul kembali. Guthrei juga membedakan antara pergerakan (movements) deangan tindaakn (acts). Pergerakan ialah kontraksi otot, dan tindakan ialah kombinasi dari pergerakan-pergerakan. Contoh tindakan seperti melukiskan gambar, membaca buku. Pergerakan diperoleh melalui latihan . peneguhan (reinfoercements) menurut Guthrie adalah bukan faktor penting dalam pembelajarn. Pembelajaran terjadi apabila pergerakan yang ada membuat situasi rangsangan, dan tidak ada tindak balaslain yang muncul. Oleh karena itu dalam situasi yang sama, tindsak balas yang sama akan diulangi lagi.

Sumbangan teori Guthrie dalam pembelajaran ia;ah mengenai pembinaan dan perubahan kebiasaan (habit).kebiasaan di artikan sebagai suatu tindak balas yang dikaitkan dengan beberapa rangsangan yang berbeda. Kebiasaan terbentuk karena perkaitan antara rangsanagn dengan tindak balas. Oleh karena iut, mengubah kebiasaan dapat dilakukan dengan mengubah keterkaitan itu. Misalnya untuk menghilangkan kebiasaan yang tidak dikehendaki (misalnya kebiasaan tak baik) dapat dilakukan dengan menghilangkan kaitan antara rangsangan dengan tindak balas. Guthrie mengemukakan ada tiga metode dalam mengubah kebiasaan, terutama kebiasaan buruk, yaitu metode ambang ( the threshold method), metode meletihkan( the fatigue method), dan metode rangsangan tak serasi( the incompatible response method). Metode ambang ialah metode mengubah tindak balas dengan menurunkan atau meningkatkan rangsangan secara berangsur. Rangsangan yang dapat menim bulkan rangsangan tindak balas yang tidak diinginkan diturunkan secara berangsur , atau rangsangan yang dapat menimbulkan tindak balas yang diinginkan di tingkatkan secara berangsur. Miswalny menghilangkan ketakutannanka tidur di tempat yang gelap. Mula-mula anak tidur dengan lampu yang terang, kemudian secara berangsur-angsur cahaya lampu dikurangi, sehingga akhirnya anak terbiasa denga tidur tanpa lampu. Metode kedua adalah metode meletihkan, yaitu menghilangkan tindak balas yang tidak diinginkan dengan menggalakkan individu mengulangi tindak balas itu sampai akhirnya ia letih dan tidak mau lagi menulis pada dinding rumah. Anak digalakkan untuk terus terusan menulis sampai ia dan bosan, dan akhirnya ia tidak mau lagi berbuat demikian. Model ketiga adalah metode rangsangan tak serasi, yaitu dengan memasangkan rangsangan yang menimbulkan tindak balas yang tidak diinginkan, misalnya menghilangkan rasa takut seorang anak terhadap kucing, dengan rangsangan lain yang dapat menghilangkan ketakutan anak terhadap kucing. Setiap anak melihat kucing(rangasangn yang menakutkan ), nakan didekati oleh ibunya dengan kasih sayang serta diberiakn makanan kesukaanya. Kehadiran kucing(yang menakutkan) bersamaan dengan kehadiran ibu dan makanan kesukaan (rangsangan yang menyanangkan), lama kelamaan anak akan terbiasadengan kucing dan tidak takut lagi.

2.Teori pelaziman Operan : Thorndike

Sebagai pelanjut dari kajian pavlov ialah Edward Thorndike seperti halnya kajian pavlov, thorndike melakukan kajian yang menuntut reaksi perilaku dari subjek percobaanya. Perbedaannya ialah bawa perilaku yang dikaji oleh Thorndike tidak pada reflex tetapi pada perilaku. Percobaan yang dilakukan oleh Thorndike ialah terhadap hewan(kucing) lapar ynag ditempatkan dalam suatu kandang dan diperlihatkan adanya makanan di luar kandang itu. Apabila kucing itu melihat makanan, maka ia akan berusaha mencari jalan untuk keluar dari kandang agar mendapatkan makanan. Dalam usaha mencari jalan keluar, kucing menunjukkan sebuah perilaku yang pada suatu waku ia menyentuh sebuah tombol yang menyebabkan pintu itu terbuka. Dalam kondisi yang sama, percobaan itu dilakukan berulang-ulang. Ternyata bahwa waktu yang di perlukan oleh kucing mulai dari melihat makanan sampai berhasil membuka pintu, terjadi penurunan mulai dari percobaan pertama, kedua, dan selanjutnya. Percobaan ini membuktikan bahwa apabila suatu tindak balas memberikan hasil yang memuaskan, maka tindak balas itu akan diulanginya kembali. Dalam hal ini ialah kucing menemukan tombol yang ternyata memberikan hasil memuaskan yaitu pintu terbuka dan mendapatkan makanan. Perbuatan itu dilakukan lagi karena memberikan hasil.

Percobaan Thorndike diesbut sebagai instrumental conditioning atau pelaziman instrumental(alat)yang artinya bahwa suatu tindak balas itu pada dasarnya merupakan instrument atau alat untuk mencapai auatu tujuan. Dalam percobaan tersebut, perilaku membuka pintu kandang merupakanalat untuk mencapai tujuan (makanan). Dari percobaan Thorndike dibuktikan pula terjadinya pembentukan hubungan antara rangsangan dengan perilaku tertentu. Oleh karena itu, teori Thorndike ini disebut juga sebagai teori connectionism.proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pembinaan hubungan antar rangsangan tertentu dengan perilaku tertentu. Semua pembelajaran dilakukan melalui suatu proses coba-salah (trial and error)dimana akan terjadi proses memilih dan mengaitkan rangsangan dengan tindak balas. Dalam proses pmbelajaran,motivasi,gfanjaran,dan hukum memegang peranan yang penting. Motivasi mendorong individu untuk melakuakn tindakan dalam mencoba tujuan.sedangkan ganjaran memberikan penguatan bagi tindakan tertentu, dan hukuman akan mengurangi tindakan yang tidak membrikan hasil yang memuaskan .

Ada tiga hukum pembelajaran dalam teori Thorndike ini, yaitu hukum hasil,hukum latiahn,dan hukum kesiapan. Hukum hasil menyatakan bahwa hubunganantara rangsangan denganperilaku akan makin kukuh apabila terdapat kepuasaa, dan akan semakin diperlemah apabila terdapat ketidakpuasan. Hukum latihan menyatakan bahwa suatu hubungan atau rangasangan dan perilaku akan makin kukuh apabila sering di lakukan latihan. Dan hukum kesiapan menyatakan bahwa hubungan antara rangsangan dengan perilaku akan menjadi lebih kukuh apabila disertai dengan kesiapan individu. Atas dasar ketiga hukum ini, maka pembelajaran akan lebih efektif apabila memberikan hasil yang memuaskan, diserati dengan banyak latihan dan memiliki kesiapan untuk melakukan aktivitas pembelajaran.

Dalam kaitan denganpembelajran dalam pendidikan, thorndike menambahkan lima macam hukum pembelajaran lagi yang disebut senagai hkum-hukum minor. Kelima hukum tersebut ialah:

Pertama, hukum gerak tindak aneka(multiple response), yaitu hukum yang menyatakan bahwa dalam satu rangsangan dapat menghasilakn beraneka tindaka balas. Contohnya keterampilan dalam main tennis, dapat mengahsilakn bermacam-macam gerakan untuk menghadapi bola.

Kedua, hukum sikap atau keadaan awal(attitude dispositions or state), yaitu yang menyatakan bahwa kondis individu pada awal pembelajaran akan mempengaruhi proses pembelajaran. Misalnya keadaan sikap dan kesiapan untuk memuali pembelajaran,arahan untuk suatu aktivitas.

Ketiga, hukum kemampuan memilih hal-hal yang penting (partial or piecemeal activity of a situation), yaitu kemampuan seorang pelajar memilih hal0hal yang di angggap penting dari suatu keadaan dan bertindak sesuai dengan apa yang dipandang penting.

Keempat, hukumtindak balas melalui analogi(assimilation of response by analogy), yaitu kemampuan individu untuk melakukan tindak balas dalam situasi yang abru dengan menggunakan tindak balas yang telah dimilikinya, dengan penyesuaian seperlunya. Misalnya mnggunakan keterampilan bermain badminton dalam bermain tennis.

Kelima, hukum perpindahan berkait(associative shifting), yaitu menggantikan atau melanjutkan suatu rangsangan, sehingga tindak balas bersusaian dengan rangsangan baru. Misalnya meneruskan kebiasaan memberikan bahan-bahan bacaan kepada anak agar ia selalu mau membaca dalam setiap kesempatan.

3.teori pelaziman operan: Skinner

Skinner melanjutkan teori pelaziman operan sebagaimana yang telah dikembangkan oleh Pavlov,thindike, Watson, dan Guthrie. Asumsi dasar skinner ialah bahwa perubahan perilaku itu adalah fungsi dari pada kondisi dan peristiwa lingkungan. Skinner berpendapat bahwa terjadinya tindak balas individu tidak hanya terjadi karena adanya rangsangan dari lungkungan, akan tetapi dapt juga terjadi karena sesuatu di lingkungan yang tidak diketahui atau tidak disadari.

Dalam teori skinner ini, prinsip peneguhan ,memegang peranan yang penting dalam mewujudkan tindak balas baru. Peneguhan diartikan sebagai suatu konsekuensi perilaku yang memperkuat perilaku tertentu. Ada dua macam peneguhan, yaitu peneguhan positif ialah sesuatu rangsangan yang makin memperkuat anak terus meningkatkan tindak balas yaitubelajar lebih giat. Peneguhan negative ialah peneguhan yang mendorong individu untuk menghindari suatu tindak balas tertentu yang tidak memuaskan. Disamping itu, dibedakan peneguhan primer ialah peneguhan yang dapat memperkuat suatu tindak balas atau perilaku tanpa harus dipelajari dan sangat esensial bagi kelangsungan hisup. Peneguhan sekunder ialah peneguhan yang terwujud karena pelaziman.

Teori skinner ini banyak diterapakan dalam bidang pendidikan formal terutama dalam metode dan teknologi pengajaran. Memilih rangsangan dan memberikan peneguhan adalah merupakan unsure utama dalam pengajaran. Dalam pengajaran di dalam kelas, unsur pelajar perlu mendapat perhatian,terutama dalam aspek perbedaan individual, kesiapan untuk pembelajaran,dean motivasi. Aspek lain yang perlu dikembangkan adalah peneguhan social,yaitu lingkungan social yang dapat meneguhkan perilaku pembelajaran. Dalam mengembangkan suasana kelas yang positif, teori skinner menyarankan peringkat-peringkat sebagai berikut :1. menganalisis keadaan lingkungan kelas, 2.mengembangkan hal-hal yang dapat menjadi peneguhan positif, 3.memilih perilaku-perilaku pembelajaran yang akan diterapkan di dalam kelas,4.menerapkan perilaku pembelajaran, dengan memberikan pengendalian untuk mencatat dan menyesuaikan kalau diperlukan.

Tokoh-tokoh lain yang juga mengembangkan teori pembelajaran dalam kelompok teori pelaziman operan ialah miller dan dollard dengan teori pengurangan dorongan, dan Albert bandura dan Walters dengan teori pembelajaran melalui tiruan. Menurut miller dan dollard, ada empat unsur pokok dalam proses pembelajaran, yaitu dorongan,isyarat,tindak balas,dan ganjaran .untuk memperoleh hasil yang sebaik-baiknya, keemapt unsure itu harus diwujuakan scara tepat. Menurut albert bandura danwaltres, pembelajaran dapat dilakukan melalui proses peniruan. Dalam perkembangan selanjutnya, teori bandurs juga disebut teori social-kognitif.

TEORI PEMBELAJARAN GESTALT

Peraktaan gestaltsendiri berasal dari bahasa jerman yang mempunyai padanan arti kira-kiar sebagaibentuk atau konfigerasi. Pokok pandangan gestalt ialah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan di pandang sebagai suatu keseluruhan yang teroerganisasikan. Organisasi dasar melibatkan suatu figur yaitu apa yang menjadi pusat pengamatan, dan berlawanan dengan latar, yaitu sesuatu yang melatarbelakangi suatu bentuk sehingga bentuk itu nampak sebagai sesuatu yang bermakna.jadi, suatu obyek atau peristiwa dapat dilihat maknanya apabila diamati dari segi keseluruhannya dan bukan jumlah bagian-bagian.suatu unsure atau bagian baru akan mempunyai arti kalau berada dalam kaitan suatu keseluruhan.

Pokok-pokok pandangan gestalt berangkat dari empat asumsi dasar, yaitu:

Pertama, bahwa perilkau molar hendaknya lebih banyak dipelajari dibandingkan dengan pandangan molecular. Perilaku molecular ialah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku molar adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar.perilaku mlar lebih mempunyai makna dibandingkan dengan perilaku molecular.

Kedua,bahwa hal yang penting dalam hal mempelajari perilaku, ialah membedakan antara lingkungan goegrafis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan goegrafis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral adalah merujuk kepada sesuatu yang nampak.

Ketiga,bahwa organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan local atau suatu bagian dari peristiwa, akan tetap mereaksi terhadap keseluruhan obyak atau peristiwa.

Keempat, bahwa pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensori adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis.proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.

Beberapa aplikasi teori gestalt dalam proses pembelajaran dan pengajaran adalah anatara lain yang berkenaan dengan :

1.pengalaman tilikan (insight)

Berdasarkan percobaannya, kohler menyatakan bahwa tilikan memegang peranan yang penting dsalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya para pelajar memilki kemampuan tilikan, yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsure-unsur dalam suatu peristiwa. Guru hendaknya mengembangkan dengan proses tilikan.

2. pemebelajaran yangbermakna

Kebermaknaan unsur-unsur yang terkait dalam suatu peristiwa, akan menunjang pembemtukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsure,akan makin dekat efetif sesuatu dipelajari.hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternative pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari siswa hendaknya memilki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.

3.perilaku bertujuan

Prinspi ini dikembangkan oleh Edward tolman yang menyakini bahwa pada hakekatnya perilaku itu terarah kepada suatu tujuan. Perilaku bukan hanya sekedar hubungan antara stimulus dan respons, akan tetapi adanya keterkaitan yang erat dengan tujuan yang ingin diperoleh. oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arahaktivitas pengajaran dan membantu siswa dalam memahami tujuan itu untuk selanjutnya mengembangkan aktivitas pembelajaran yang efektif.

4.prinsip ruang hidup.

Kosep ini dikembangkan oleh kurt lewin dalam teori medan yang menyatakan bahwa perilaku individu mempunyai keterkaitan dengan lingkungan di mana ia berada. Individu berada dalam suatu lingkungan medan psikologis yang mempengaruhi pola-pola perilakunya.materi yang situasi dan kondisi lingkungannya.

5. transfer dalam pembelajaran.

Transfer dalam pembelajaran adalah pemindahan pola-pola perilaku dari suatu situasi pembelajaran tertentu kepada situasi tertentu. Menurut teori ini , transfer terjadi dengan jalan melepaskan pengertian dari suatu konfigurasi dalam suatu situasi untuk kemudian menempatkannya dalam situasi kofigurasi laindalam alat susunan yang tepat. Menurut teori ini, transfer akan terjadi apabila pelajar telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan, dan menemukan generalisasi unutk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.dalam hubungan dengan pembelajaran dan pengajaran di kelas, hendaknya guru membantu siswa untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi-materi yang diajarjanya.

TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF (JEAN PIAGET).

Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek perkembangan mental yang bertujuan: 1.memisakan kenyataan yang sebenarnya denganfantasi, 2.menjelajah

Kenyataan dan menemukan hukum-hukumnya. 3. mmilih kenyataan-kenyataan yang berguna bagi kehidupan, 4. menetukan yang sesunggunya di balik sesuatu yang nampak.

Menurut piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses di mana tujuan individu melalui rangkaian yang secara kualitatif berbeda dalam berpikir. Hal yang diperoleh dalam satu perngkat akan merupakan dasar bagi peringkat selanjutnya.perkembangan kognitif terbentuk melalui interaksi yang konstan antara individu dengan lingkungan melalui dua proses yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi ialah proses penataan segala sesuatu yang ada di lingkungan, sehingga menjadi dikenal oleh individu. Adaptasi adalah proses terjadinya penyesuaian antara individu dengan lingkungan. Adaptasi terbentuk melalui dua bentuk, yaitu asimilasi ialah proses menerima dan mengubah apa yang diterima dari lingkungan agar bersesuaian dengan dirinya . akomodasi ialah proses individu mengubah dirinya agar bersesuaian dengan apa yang diterima dari lingkungannya.

Intelegensi merupakan dasar bagi perkembangan kognitif dan suatu proses berkesinambungan yang mengasilkan struktur dan diperlukan dalam interaksi dengan lingkungan. Implikasi teori perkembangan kognitif piaget dalam pengajaran, antara lain:

a. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu dalam mengajar, guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir siswa.

b. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu agar dapat berinteraksi denag lingkungan dengan sebaik-baiknya.

c. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidaj asing

d. Beri peluang agar anak sesuai dengan peringkat perkembangnya.

e. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya banyak debri peluang untuk saling berbicara dengan teman-temannya dan saling berdiskusi.

TEORI PEMROSESAN INFORMASI (ROBERT GAGNE).

Teori pembelajaran yang dikemukakan oleh Robert gagne disebut dengan teori pemrosesan informasi, dan teori kondisi-kondisi pembelajaran.asumsi yang mendasari teori gagne adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan . perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pada pembelajaran. Hasil pembelajaran manusia pada dasarnya bersifat kumulatif, yang berarti bahwa hasil pembelajaran yang dicapai individu adalah merupakan kumpulan keseluruhan hasil-hasil pembelajran yang sebelumnya terkait. Gagne berpendapat bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil pembelajaran.dalam memperoleh informasi itu terjadi adanya interkasi antara kondisi-kondisi internal dan kondis eksternal. Kondis internal ialah keadaan di dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai haisl pembelajaran, dan proses kognitif yang terjadi dari dalam individu selama proses pembelajaran berlangsung. Sdangkan kondisi eksternal ialah berbagai rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembeljaran.interaksi antara kondisi internal dan kondisi eksternal menghasilkan hasil pembelajaran.

Dengan merujuk kepada teori-teori pembelajaran sebelumnya (behaviorisme , kognitif ,gestalt), selanjutnya gagne mengemukakan ada delapan jenis bentuk pembelajaran , yaitu: 1. pembelajaran melalui isyarat, 2.pembelajaran melaui rangsangan, 3.pembelajarn perantaian, 4.pemeblajaran perkaitan verbal, 5. pembelajaran membeda-bedakan ,6.pembelajaran konsep ,7.pembelajaran menurut hukum, dan 8. pmbelajaran penyelesaian masalah.

Dalam kaitan pengajaran di ruang kelas, gagne mengemukakan ada sembilan langkah pengajaran yang perlu diperhatikan oleh guru. Langkah-langkah tersebut adalah:

1. Melakukan tindakan untuk menarik perhatian siswa.

2. Memebrikan informasi kepda siswa mengenai tujuan pengajaran dan topic-topik yang akan di bahas.

3. Merangsang siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran,

4. Menyampaikan isi pelajaran yang di bahas sesuai dengan topic yang telah diterapkan.

5. Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran.

6. Memberikan peneguhan kepada perilaku pembelajaran siswa.

7. Memberikan umpan balik terhadap prilaku yang ditunjukkan siswa.

8. Melaksanakan penilaian proses dan hasil pembelajaran.

9. Memberikan kesemapatan siawa untuk mngingat dan menggunakan hasil pembelajaran.

TEORI PEMBELAJARAN SOSIAL-KOGNITIF (ALBERT BANDURA)

Teori pembelajaran yang dikemukakan oleh bandura disebut teori pembelajaran social-kognitif dab disebut pula sebagai teori pembelajaran melalui peniruan . Teori bandura berdasarkan pada tiga asmusi, yaitu: pertama, bahwa individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada dilingkungannya, terutama perilaku-perilaku orang lain . apabila peniruan itu memperoleh penguatan, maka perilaku yang ditiru itu akan mejadi perilaku dirinya. Kedua, ialah tedapat hubungan yang erat antara pelajar dengan lingkungannya . pembelajaran terjadi dalam keterkaitan antara tiga pihak, yaitu lingkungan,perilaku,dan faktor-faktor pribadi. Ketiga, ialah bahwa hasil pembelajaran adalah berupa kode perilaku visual dan verbalyang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Atas dasar asumsi tersebut,maka teori pembelajaran bandura disebut social-kognitif karena proses kognitif dalam diri individu memegang peranan dalam pembelajaran, sdangkan pembelajaran trjadi karena adanya pengaruh lingkungan social. Dengan demikian , maka teori bandura ini disebut teori pembelajaran melalui peniruan. Perilaku individu terbentuk melalui peniruan terhadap perilaku lingkungan , pembelajaran merupakan suatu proses bagaimana membuat peniruan yang sebaik-baiknya , sehingga bersesuaian dengan keadaan dirinya dan tujuannya.

Dalam mengembangkan proses pengajaran yang efektif, teori ini menyarankan strategi ini menyarankan strategi sebagai berikut:

1. Mengidentifikasikan model-model perilaku yang akan digunakan dalam kelas.

2. Mengembangkan perilaku yang memberikan nilai-nilai secara fungsional, dan memilih perilaku-perilaku model.

3. Mengembangkan urutan atau peringkat proses pengajaran

4. Menerapkan aktivitas pengajaran dan membimbing aktivitas pembelajaran siswa dalam membentuk proses kognitif dan motorik.

Sumber : Belajar dan Pembelajaran

belajar membaca anak usia dini


Belajar Membaca Untuk Anak Usia Dini

Bisa membaca di usia dini mungkin bukanlah segalanya. Ada hal yang lebih penting dari kemampuan membaca, yang justru agak sering terlewatkan, yaitu bagaimana membuat anak-anak senang dengan buku dan kegiatan membaca.

Jika pembentukan kebiasaan membaca kurang dibangun, tak jarang, ada anak yang sudah bisa membaca tetapi tidak tertarik dengan buku.

Akan tetapi, tidaklah pula berlebihan jika orang tua mulai menyediakan media belajar membaca (apapun itu) pada saat anak-anak terlihat begitu antusias dengan buku dan kegiatan membaca, meskipun mereka masih berusia balita atau bahkan batita. Kontroversi tentang hal tersebut memang masih selalu hangat dibicarakan dan tak pernah ada habisnya dari waktu ke waktu. Beberapa pihak bahkan melarang orang tua atau guru untuk mengajarkan keterampilan membaca pada usia dini, dengan alasan takut anak-anak jadi terbebani, sehingga mereka menjadi benci dengan kata belajar.

Namun sejauh pengalaman saya, selama prinsip belajar fun yang dikembangkan, materi apapun yang diajarkan kepada anak usia dini selalu direspon dengan baik dan anak-anak suka untuk belajar. Mengajak anak-anak untuk belajar membaca menurut saya jauh lebih baik daripada membiarkan mereka menonton TV seharian. Tanpa kita sadari sesungguhnya anak-anak juga belajar sesuatu lewat TV, yang sayangnya lebih banyak berupa hal-hal negatif daripada hal-hal yang positif.

Seputar metode belajar

Metode mengajar balita membaca sangatlah beragam. Karena begitu beragamnya, lagi-lagi kita akan menemukan perbedaan dasar pemikiran dari metode-metode tersebut. Meskipun kadang-kadang sering mencuat pertentangan yang tajam antar berbagai metode, kita tak perlu bingung. Kenali saja semua konsep yang ditawarkan, dan kenali pula gaya belajar anak-anak kita. Jika metode dan gaya belajar cocok, kita bisa lebih mudah memotivasi anak untuk belajar.

Berdasarkan telaah saya, sejauh ini di dunia belajar ini dikenal 2 metode besar, yaitu metode terstruktur dan metode tidak terstruktur (acak). Keduanya tidak lebih baik atau lebih jelek dari yang lainnya. Metode terstruktur dan tidak terstruktur (acak) bisa saling melengkapi sesuai karakter dua belahan sisi otak kita yang kini populer dengan istilah otak kiri dan otak kanan.

Otak kiri memiliki karakteristik yang teratur, runut (sistematis), analitis, logis, dan karakter-karakter terstruktur lainnya. Kita membutuhkan kerja otak kiri ini untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan data, angka, urutan, dan logika.

Adapun karakteristik otak kanan berhubungan dengan rima, irama, musik, gambar, dan imajinasi. Aktivitas kreatif muncul atas hasil kerja otak kanan.

Melalui deskripsi tentang karakteristik dua belahan otak tersebut, kita tentu bisa melihat bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Apa jadinya para kreator-kreator seni jika tak punya tim manajemen yang handal. Bisa kita bayangkan pula sepi dan monotonnya dunia ini jika penghuninya hanyalah para ahli matematika atau akuntansi yang selalu sibuk dengan angka. Secara personal, kita pun akan menjelma menjadi orang yang timpang jika tidak mampu menyeimbangkan kinerja dua sisi otak kita. Kita pun bisa tumbuh menjadi orang yang ekstrem dalam memandang belajar dan cara belajar.

Selain metode belajar, karakteristik anak-anak juga perlu kita ketahui dan pahami agar kita bisa merancang model-model belajar yang menarik minat anak. Beberapa karakteristik anak secara umum adalah sebagai berikut:

  1. Konsentrasi lebih pendek (relatif)
  2. Tidak suka diatur/dipaksa
  3. Tidak suka dites

Ketiga ciri tersebut jelas menunjukkan kepada kita bahwa mengajar balita membaca tak bisa dilakukan dengan cara-cara orang dewasa. Kita membutuhkan teknik-teknik yang lebih bervariasi dan adaptif terhadap kecenderungan anak-anak. Dan hanya satu kegiatan yang bisa melumerkan 3 karakteristik di atas yaitu BERMAIN. Mengapa? Karena dalam bermain anak-anak tidak menemukan tes, paksaan, dan batas waktu. Ketika bermainlah anak-anak menemukan kebebasan dirinya untuk berekspresi. Ketika bermain pula mereka menemukan kesenangan mereka.

Model-model belajar membaca untuk inspirasi

  1. 1. Belajar membaca lewat kosa kata

Kosa kata adalah pembentuk kalimat. Lewat kosa kata yang makin beragam, kalimat yang kita keluarkan pun akan semakin kaya. Lewat kosa kata, anak-anak akan belajar tak hanya kemampuan membaca tetapi juga perbendaharaan dan pemahaman akan kata-kata yang akan mereka gunakan dalam berbicara.

Variasi yang bisa digunakan diantaranya, kartu kata yang disajikan dengan model Glen Doman, poster kata yang ditempel di dinding, buku-buku bergambar yang kalimatnya pendek dan ukuran hurufnya cukup besar. Prinsip yang dipakai dari metode tersebut adalah belajar dengan melakukannya. BELAJAR MEMBACA dengan MEMBACA.

Hal-hal khusus yang menyertai model ini adalah kemungkinan anak-anak untuk mengenal pola lebih lama. Artinya, bisa jadi untuk bisa benar-benar membaca semua kata yang diperlihatkan kepada mereka (meski belum diajarkan) membutuhkan waktu yang cukup lama, tergantung kecepatan anak.

  1. 2. Belajar Membaca lewat Suku Kata

Model ini paling banyak digunakan, terutama di sekolah-sekolah. Prinsip dasarnya adalah terlebih dulu mengenali pola sebelum masuk pada fase membaca.

Belajar lewat suku kata misalnya ba bi bu be bo dan seterusnya juga memiliki efek tersendiri, diantaranya kecepatan membaca yang sedikit lambat jika tidak diiringi latihan langsung lewat buku atau bacaan-bacaan. Mengapa demikian? Karena anak-anak akan terbiasa dengan membaca pola lebih dulu baru membaca. Kerja otak kiri lebih dominan dalam hal tersebut.

Untuk mengimbanginya, kita harus lebih sering memotivasi anak untuk membaca kata-kata secara langsung lewat buku tanpa harus memilah suku katanya.

  1. 3. Belajar membaca dengan mengeja

Model ini di awali dengan pengenalan huruf baru kemudian merangkainya menjadi gabungan huruf dan kemudian kata. Sebenarnya metode ini sudah jarang digunakan orang karena memang terbukti cukup sulit bagi anak.

Kerja otak kiri akan semakin dominan jika kita memakai metode ini. Anak-anak harus melewati tiga tahapan menuju kata, yaitu huruf, suku kata, lalu kata. Memang ada anak-anak yang bisa belajar dengan metode ini, tapi lagi-lagi latihan membaca kata secara intensif harus mengiringinya agar anak-anak merasa percaya diri untuk membaca.

Belajar Multi Metode

Adakalanya spesialisasi itu baik untuk mengenal kedalaman suatu ilmu, tapi dalam belajar membaca kita bisa mempergunakan multi metode sekaligus tanpa harus merasa tabu hanya karena teori yang kita peroleh dianggap paling rasional.

Dengan kata lain, kita bisa memperkenalkan pada anak-anak kita semuanya, huruf, suku kata, ataupun kosa kata. Catatan pentingnya tentu saja: sajikan dengan perasaan riang sehingga anak-anak kita pun mendeteksi kegembiraan dan ketulusan yang kita berikan pada mereka. Hal itu jauh lebih berarti dan lebih efektif daripada segudang metode terhebat sekalipun.

Tersisa dari itu semua, kita memang tak boleh berhenti belajar.

sumber (http://pustakanilna.com)