Islam dan barat : tentang “Sains”


PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MANUSIA DI DUNIA ISLAM DAN DI EROPA TERHADAP SAINS

A. Pemikiran Manusia Di Dunia Islam

Islam sebagai politik Internasional pada abad VII, cepat meluas daerah kekuasaannya keluar semenanjung Arabia sehingga mencakup Suria, Palestina, Mesir, Afrika Utara, Spanyol dan pulau-pulau laut tengah, seperti Sisilia, di barat dan Mesopotamia (irak), Persia, Asia Tengah dan India di Timur. Di daerah-daerah yang jatuh ke bawah kekuasaan Islam ini terdapat tiga peradaban besar yaitu;PersiadanIndiayang oleh Alexander Agung dari Masedonia pernah diusahakan meleburkannya menjadi satu.

Ketika Islam belum memulai kontak dengan ilmu pengetahuan, di India sudah berkembang ilmu hitung, ilmu bintang, ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lainnya. Di Persia terdapat ilmu-ilmu antara ilmu bumi, logika, filsafat, ilmu bintang, ilmu ukur dan ilmu kedokteran, dan di Yunanai berkembang ilmu filsafat sebagai sumber ilmu pengetahuan.

a. Bani Abbas

Kekuasaan Bani Abbas adalah melanjutkan kekuasaan Bani Umayah. Dinamakan Bani Abbas karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW.

Bani Abbas memindahkan ibukotaDamaskus sebagai ibukotapemerintahan Bani Umayah keBaghdad. Sehingga agak jauh dari pengaruh Arab.Baghdadterletak di daerah yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaanPersia. Di samping itu tangan kanan yang membawa Bani Abbas kepada kekuasaan adalah orang-orang Persi, dan setelah Bani Abbas berkuasa, cendikiawan-cendikiawan Persilah yang mereka pakai sebagai pembesar-pembesar di istana. Yang terbesar dan banyak berpengaruh pada ilmu pengetahuan adalah keluarga Barmak yang berasal dari Balkhan (Bactra) pusat ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani di Persia. Dari keluarga Barmak inilah mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani di Baghdad.

Sebelum meneruskan uraian tentang perhatian cendikiawan muslim pada ilmu pengetahuan dan filsafat, ada baiknya disebut dahulu pengaruh ekspansi (perluasan wilayah) Alexander Yang Agung dari kerajaan Persia, dalam membawa kebudayaan (filsafat) Yunani ke daerah-daerah yang telah jatuh ke bawah kekuasaan Islam di sekitar Semenanjung Arabia.

Ekspansi Alexander Yang Agung datang ke timur bukan hanya untuk memperluas daerah kekuasaannya, tetapi juga untuk mempersatukan orang Yunani danPersiadalam satu negara besar. Ia menganjurkan dan mendorong perkawinan campuran antara Yunani danPersia. Ia dirikan kota-kota dan pemukiman-pemukiman yang dihuni bersama orang-orang Yunani danPersia., dengan demikian bercampurlah kebudayaan Yunani dan kebudayaanPersia.

Niat dan usaha Alexander untuk menyatukan Yunani dan Persia dijalankan terus dan timbullah pusat-pusat Hellenisme (studi filsafat Yunani) yang terkenal adalah Alexandria di Mesir, Antiok di Suria, Harran dan Jundisapur di Persia, yaitu suatu kota didekat Baghdad di Irak.

Sungguhpun Arab Jahiliyah sudah mempunyai hubungan dengan beberapa dari daerah itu, terutama Suria, tetapi kebudayaan Yunani yang disanatidak ada pengaruhnya kepada mereka. Kemudian datang islam, mendorong umat islam mencari ilmu dan pengetahuan disana.

Pemasukan filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani ke dalam Islam lebih banyak terjadi melalui Irak dengan ibukotaBaghdad, yaitu pada masa Bani Abbas.

Di masa Bani Abbas inilah perhatian kepada ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani memuncak, terutama di zaman Harun Al-Rasyid dan Al-Makmun. Buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat didatangkan dari Bizantiun dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kegiatan penerjemahan buku-buku ini berjalan kira-kira satu abad. Bait Al-Hikmah adalah perpustakaan terbesar pada masa itu yang didirikan oleh Al-Makmun. Tempat ini bukan hanya sebagai pusat penerjemah tetapi juga sebagai akademi. Di antara cabang-cabang ilmu pengetahuan yang diutamakan dalam Bait Al-Hikmah adalah ilmu kedokteran, matematika, optik, geografi, fisika, astronomi dan filsafat.

Cendikiawan-cendikiawan Islam bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat yang mereka pelajari dari buku-buku Yunani itu, tetapi memindahkan ke dalamnya hasil-hasil penyelidikan yang mereka lakukan sendiri dalam lapangan ilmu pengetahuan dan hasil pemikiran mereka dalam lapangan filsafat. Dengan demikian timbullah ahli-ahli ilmu pengetahuan dan filosof-filosof islam, sebagaimana halnya dengan filosof-filosof Yunani, bukan hanya mempunyai sifat filosof, tetapi juga sifat ahli ilmu pengetahuan. Karangan-karangan mereka bukan hanya terbatas dalam lapangan filsafat tetapi juga meliputi lapangan ilmu pengetahuan.

Parailmuan dan filosof muslim yang terkenal antara lain;

1) Al-Fazari (abad VIII), seorang ahli astronomi Islam yang pertama kali menyusun “Astrolable”, yaitu alat yang dahulu dipakai untuk mengukur tinggi bintang-bintang, planet, satelit, dan lain-lain.

2) Al-Farghani, yang dikenal di Eropa Barat dengan nama Farganus, ia mengarang ringkasan tentang ilmu astronomi yang diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johanes Hispalensis.

3) Abu Ali Al-Hasan Ibnu Al-Haytham (abad X), yang dikenal di Eropa Barat dengan nama Alhazen, ia ahli di bidang optik dan karya yang terbesar adalah “Kitab Al-Munadzir”. Ia orang pertama yang menentang atau mengkritik pendapat Euklid dan Ptolomus bahwa mata dapat melihat karena matalah yang mengirim cahaya kepada objek atau benda yang dilihat. Menurut teori Alhazen bahwa mata dapat melihat karena objeklah atau bendalah yang mengirim cahaya ke mata dan karena menerima cahaya itu mata dapat melihat benda atau objek yang bersangkutan. Ternyata teorinya sampai sekarang masih benar. Ia juga ahli di bidang pengobatan mata.

4) Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi (780-850 M), ia ahli Matematika dan orang pertama yang mengarang buku tentang ilmu hitung, aljabar dan logaritma atau sistim hitungan desimal. Istilah algorism atau algorithm dalam matematika diyakini berasal dari nama Al-Khwarizmi. Angka-angka yang dipakai sekarang ini berasal dari angka Arab bukan dariIndia. Pendapat ini dikatakan oleh Baron Carra de Vaux. Ia berargumentasi bahwa angka nol (0) di Arab dikenal pada tahun 873 M, sedangkan angka nol (0) di India baru dikenal pada tahun 876 M, artinya ada selisih tiga tahun. Menurut Risler bahwa penemuan angka nol (0) ini adalah salah satu penemuan terpenting dalam sejarah manusia.

5) Abu Bakar Muhammad Ibnu Zkaria Al-Razi (865-925 M), yang di Eropa dikenal dengan nama Rhazes, ia ahli di bidang ilmu kedokteran. Buku karangannya tentang ilmu kedokteran yang sangat terkenal adalah “Kitab Al-Thabib Al-Manshury” terdiri atas 10 (sepuluh) jilid, yang diterjemahkan dalam bahasa latin abad XV dengan judul Liber Al-Mansoris. Dan “Al-Khawy” yaitu ensiklopedi ilmu kedokteran terdiri atas 20 (duapuluh) jilid., diterjemahkan ke alam bahasa latin dengan nama Continental.

6) Abu Ali Al-Husain Ibnu Sina (980-1037 M), di barat dikenal dengan nama Avicenna, ia ahli didang kedokteran, buku karangannya yang paling besar adalah “Al-Qanun Fi Al-Thabib”.

7) Jabir Ibnu Hayyan (721-815 M), yang dikenal di Eropa dengan nama Geber. ia adalah ahli di bidang ilmu Kimia. Penemuan terbesarnya adalah tentang “konsentrasi kimia” dan “air raksa”. Jabir juga menemukan metode penguapan, penyaringan, sublimasi (penguapan dan pemadatan), pencairam, dan kristalisasi.

8) Al-Jahiz (abad IX) dibidang ilmu hewan (Biologi), karya yang terkenal adalah “Kitab Al-Khayawan”, ia orang pertama yang menemukan teori evolusi dan antropologi tujuh abad sebelum teori Darwin. Teori Al-Jahiz tentang evolusi adalah “Penciptaan berlaku melalui proses evolusi, airlah yang menimbulkan kehidupan dan yang sangat utama. Kehidupan pertama terdapat dalam air dan kemudian dari sana berpindah ke daratan”.

9) Ikhwan Al-Safa dalam karyanya “Kitab Rasail” menjelaskan tentang rentetan kehidupan dimuka bumi ini, yaitu secara berurutan pertama alam mineral, kemudian alam tumbuh-tumbuhan, kemudian alam hewan termasuk manusia, merupakan satu rentetan yang sambung menyambung.

10) Ibnu Miskawaih juga orang yang mempunyai teori evolusi, ia berpendapat bahwa evolusi terjadi dari alam mineral ke alam tumbuh-tumbuhan, alam hewan lebih lanjut ke alam manusia. Transisi dari alam hewan ke alam manusia melalui kera.

Ulama-ulama Islam di zaman lampau, mempelajari alam sekitarnya bukan semata-mata karena jiwa ilmiah yang terdapat dalam diri mereka, tetapi sebagai “cara untuk menyatakan hikmah Pencipta dalam ciptaan-Nya, dan untuk memperhatikan ayat-ayat Allah SWT dalam alam semesta, Alam ini bagi mereka merupakan suatu kesatuan bidang kekuasaan yang di dalamnya terdapat hikmah Allah SWT yang dapat dilihat dimana saja”. Dengan kata lain bahwa ilmu pengetahuan dan teori-teorinya yang dihasilkan oleh cendikiawan muslim pada masa itu adalah atas dorongan ajaran Agama ( Al-Qur’an ) dan untuk menyatakan ke Mahabesaran Allah SWT, sebagai akibatnya berkembanglah ilmu pemgetahuan dalam Islam, yang selanjutnya berpindah ke Eropa Barat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s