matematika di SD


Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Pendidikan matematika harus mengarahkan siswa untuk menemukan kembali dengan cara mereka sendiri. Matematika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan ide-ide abstrak beserta simbol-simbol yang tersusun secara hierarki dan memerlukan penalaran deduktif, sehingga belajar matematika merupakan kegiatan mental yang tinggi. Hal ini tertuang di dalam kurikulum matematika SD (Depdiknas, 2003:2) secara lengkap, bahwa pengertian matematika adalah:
Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas.

Sedangkan dalam kurikulum matematika SD (Depdiknas, 2006:109) tersurat dengan jelas bahwa:
Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama…

Selain itu, baik dalam kurikulum matematika 2004 maupun 2006 masih berorientasi atau berbasis kompetensi, yang dijabarkan ke dalam standar kompetensi. Kemudian diurai dan dirinci ke dalam sejumlah kompetensi dasar setiap kelas berupa kemahiran matematika. Standar kompetensi yang dimaksud adalah standar Kompetensi Lintas Kurikulum (KLK), sebagaimana diungkapkan Windayana et al. (2006:5), yaitu:
KLK merupakan life skill yang berprinsip kepada belajar sepanjang hayat, dilakukan dan harus dicapai siswa melalui pengalaman belajar. KLK ini merupakan penjabaran dari empat pilar pendidikan yang disarankan UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

Matematika memiliki peranan penting dalam berbagai lapangan kehidupan. Banyak persoalan dan kegiatan hidup yang memerlukan kemampuan matematika. Dengan demikian untuk menjawab pertanyaan “Apakah matematika itu?” tidak dapat dengan mudah dijawab dengan satu atau dua kalimat karena berbagai pendapat muncul tentang pengertian matematika dipandang dari pengetahuan dan pengalaman masing-masing yang berbeda.
Dienes (Ruseffendi, 1992 : 144) mengemukakan bahwa pembelajaran matematika sebaiknya lebih mengutamakan kepada pengertian, sehingga matematika dapat lebih mudah dipelajari dan menjadi lebih menarik. Agar siswa dapat lebih memahami dan menguasai suatu konsep dengan baik, maka representasinya sebaiknya dimulai dengan benda-benda kongkrit yang beraneka ragam, Dienes juga percaya bahwa semua abstraksi yang berdasarkan kepada situasi dan pengalaman konkrit, adalah suatu prinsip bila diterapkan oleh guru untuk setiap konsep yang diajarkan akan menyempurnakan penghayatan siswa terhadap konsep itu.

Pada kegiatan lain Dienes (Ruseffendi, 1992 : 125) menyatakan bahwa, (a) Siswa dalam belajar matematika harus melalui memanipulasi benda-benda konkrit dan membuat abstraksinya dari konsep atau struktur, (b) Agar siswa memperoleh sesuatu dari belajar matematika siswa harus mampu mengubah suasana konkrit kedalam perumusan abstrak dengan menggunakan simbol.
Jarome Bruner (Ruseffendi 1992 : 109) menyatakan bahwa belajar matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang diajarkan. Bruner juga mengungkapkan bahwa dalam proses belajar siswa sebaiknya di beri kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat peraga). Dengan alat peraga tersebut, siswa dapat melihat langsung bagaimana keteraturan serta pola yang terdapat dalam benda yang sedang diperhatikannya kemudian oleh siswa dihubungkan dengan keteraturan intuitif yang telah melekat pada dirinya. Bruner juga sangat menyarankan keaktipan siswa dalam proses belajar secara penuh.
Jerome Bruner (MKPBM, 2001:44) mengungkapkan bahwa dalam proses belajar siswa melewati 3 tahap, yaitu:
a. Tahap enaktif
Dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam memanipulasi objek
b. Tahap ikonik
Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan siswa berhubungan dengan mental, yang merupakan gambaran dari objek-objek yang di manipulasinya.
c. Tahap simbolik
Dalam tahap ini siswa memanipulasi simbol-simbol atau lambang-lambang objek tertentu. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek real
Kedua pendapat ahli tersebut mengisyaratkan bahwa agar siswa dalam mempelajarai suatu konsep menjadi lebih mengerti dan bermakna, maka dalam mengajarkan konsep itu harus mengaktifkan siswa baik secara fisik, mental, intelektual, maupun social. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan alat peraga berupa benda-benda konkrit yang sesuai dengan materi pelajaran. Alat peraga dalam matematika adalah suatu media atau alat yang dapat mempermudah siswa memahami suatu konsep dengan bantuan alat peraga yang sesuai siswa mendapat kesempatan terlibat dalam proses pengamatan yang akan menimbulkan besar minatnya, dibantu daya tiliknya sehingga lebih mengerti dan lebih besar daya ingatnya serta supaya siswa dapat melihat hubungan antara ilmu yang dipelajari dengan alam sekitarnya dalam belajar matematika. Pada akhirnya siswa menyenangi matematika karena sesuai dengan perkembangannya.
Dalam kurikulum matematika SD (Depdiknas, 2003:2) tersurat secara jelas, bahwa “dalam pembelajaran matematika agar mudah dimengerti oleh siswa, proses penalaran induksi dapat dilakukan pada awal pembelajaran dan kemudian dilanjutkan dengan proses penalaran deduksi untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki oleh siswa”. Hal ini harus diupayakan mengingat karakteristik siswa SD yang masih berada pada tahap operasional konkrit, serta sebagai upaya dalam mencapai tujuan pembelajaran matematika yaitu, melatih cara berpikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif dan konsisten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s