Pembelajaran Contexstual Teaching Learning


Pembelajaran kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan yang nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka. Proses belajar dalam pembelajaran kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Pembelajaran kontekstual juga mendorong siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, dimana siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata di masyarakat. Berdasarkan pengertian pembelajaran kontekstual, terdapat lima karakteristik penting dalam menggunakan proses pembelajaran yaitu:

  1. Dalam CTL kegiatan pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada

  2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru yang diperoleh dengan cara deduktif

  3. Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini.

  4. Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut

  5. Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan (Saefudin. 2006).

Menurut Jhonson (2007:65) terdapat beberapa komponen dalam pendekatan CTL yaitu:

  1. Membuat keterkaitan yang bermakna

  2. Melakukan pekerjaan yang berarti

  3. Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri

  4. Bekerjasama

  5. Berfikir kritis dan kreatif

  6. Membuat individu untuk tumbuh dan berkembang

  7. Mencapai standar yang tinggi

  8. Menggunakan penilaian yang autentik.

Di dalam kelas yang menggunakan pendekatan CTL, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi peserta didik. Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru harus memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Tujuan utama diterapkannya pendekatan CTL dalam pembelajaran IPA adalah agar peserta didik dapat menghubungkan pelajaran yang mereka pelajari dengan kondisi nyata mereka sehari-hari. Siswa dengan sadar akan mengerti makna dari belajar tersebut, mereka akan sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupan nanti. Belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami apa yang dipelajarinya, bukan semata-mata mengetahuinya saja.

Dalam pembelajaran kontextual, peran guru yang sebelumnya sebagai transformator harus diubah menjadi seorang fasilitator, yaitu sebagai pencipta kesempatan peluang bagi siswa untuk dapat mengeksplorasi pengetahuan yang dimiliki siswa dalam bentuk kegiatan belajar yang bermakna bagi siswa serta berperan dalam membantu siswa menemukan fakta, konsep, prisip, bagi diri siswa dengan membangun pengetahuan dalam benaknya sendiri. Dalam pendekatan CTL kegiatan pembelajaran terpusat pada siswa sebagai individu aktif yang memiliki potensi untuk membangun pengetahuannya sendiri. Apabila guru memberikan informasi pada siswa maka guru harus bisa memberikan kesempatan bagi siswa dalam menggali informasi itu agar lebih bermakna bagi kehidupan mereka. Proses belajar berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Menurut Jhonson (Saefudin,2006:130) terdapat tiga prinsip pembelajaran kontekstual yang sering digunakan yaitu ‘saling ketergantungan, diferensiasi, dan pengorganisasian’.

Prinsip pertama adalah saling ketergantungan, menurut hasil kajian para ilmuwan segala yang ada di dunia ini adalah saling berhubungan dan ketergantungan. Dalam pembelajaran siswa berhubungan dengan bahan ajar, sumber belajar, media, sarana dan prasarana belajar, iklim sekolah dan lingkungan. Prinsip saling ketergantungan menurut hasil kajian para ilmuan adalah saling berhubungan dan bergantung, maksudnya segala yang ada baik manusia maupun mahluk hidup lainnnya selalu saling berhubungan satu sama lainnya membentuk pola jaringan sistem hubungan yang kokoh dan teratur. Begitu pula dalam pendidikan dan pembelajaran. Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang menekankan hubungan antara bahan pelajaran dengan bahan lainnya seperti sumber belajar, media, sarana dan prasarana belajar, iklim sekolah dan lingkungan, antara praktek dengan teori, antara bahan yang bersifat konsep dengan penerapan dalam kehidupan nyata.

Prinsip yang kedua adalah diferensiasi yang menunjukan kepada sifat alam yang secara terus menerus menimbulkan perbedaan, keseragaman, keunikan. Prinsip diferensiasi menunjukan kreatifitas yang luar biasa dari alam semesta, dimana bukan hanya menunjukan perubahan dan kemajuan tanpa batas akan tetapi juga kesatuan-kesatuan yang berbeda tersebut berhubungan, saling ketergantungan dalam keterpaduan yang bersifat simbiosis atau saling menguntungkan. Prinsip diferensiasi ini bukan hanya berlaku bagi alam semesta akan tetapi berlaku juga bagi sistem pendidikan dimana para pendidik dituntut untuk mendidik, mengajar, dan melatih serta membimbing sejalan dengan prinsip diferensiasi dan harmoni alam semesta. Proses pendidikan dan pembelajaran hendaknya menekankan kreativitas, keunikan, variasi dan kolaborasi. Hal tersebut sejalan dengan konsep pembelajaran menggunakan pendekatan CTL yang menekankan aktivitas dan kreativitas siswa. Siswa berkolaborasi dengan teman-temannya untuk melakukan pengamatan, menghimpun dan mencatat fakta-fakta dan informasi, menemukan prinsip-prinsip dan pemecahan masalah.

Prinsip yang ketiga adalah prinsip pengorganisasian diri, setiap individu atau kesatuan dalam alam semesta ini mempunyai potensi yang melekat, yaitu kesadaran sebagai kesatuan utuh yang berbeda dari yang lain. Prinsip ini menuntut para pendidik di sekolah agar mendorong tiap siswanya untuk memahami dan merealisasikan semua potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin. Pendekatan CTL diarahkan untuk membantu para siswa mencapai keunggulan akademik, penguasaan keterampian standar, pengembangan sikap dan moral sesuai dengan harapan masyarakat.

Dalam pembelajaran kontekstual ada beberapa asas-asas antara lain, konstruktivis, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, penilaian nyata. Ketujuh prinsip tersebut akan dijelaskan dibawah ini:

  1. Konstruktivis

Konstruktivis merupakan landasan berpikir atau filosofi model pembelajaran kontekstual, yaitu pengetahuan yang sudah dibangun oleh anak sedikit demi sedikit serta bertahap, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas sehingga memiliki kekhususan dan tidak secara tiba-tiba terbentuk sebuah pengetahuan. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil dan diingat. Pembelajaran kontekstual pada dasarnya mendorong siswa dapat menimbulkan minat belajar dalam diri siswa.

  1. Inkuiri

Inkuiri merupakan pengetahuan dan keterampilan yang didapat siswa bukan dari hasil mengingat dan menghapal fakta-fakta melainkan dari hasil menemukan sendiri melalui kegiatan observasi, bertanya, mengajukan dugaan, pengumpulan data dan membuat kesimpulan.

  1. Bertanya

Pengetahuan yang dimiliki siswa bermula dari bertanya baik terhadap guru, teman maupun orang lain. Sehingga dari yang tidak tahu atau paham menjadi tahu dan paham.

  1. Masyarakat belajar

Melalui masyarakat belajar dalam hal ini siswa belajar secara berkelompok maka siswa memperoleh pengetahuannya melalui tukar pendapat dengan teman, antara kelompok, antara yang tahu dan belum tahu bahkan dengan masyarakat belajar yang berbeda kelas.

  1. Pemodelan

Pemodelan ini merupakan sebuah pembelajaran untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilah tertentu lewat model yang bisa ditiru oleh siswa. Guru dituntut menjadi model yang baik dalam memberikan contoh cara balajar dan bekerja yang baik. Untuk menjadi model tidak selalu guru tetapi siswapun dapat dijadikan model yang baik atau dengan mendatangkan orang sesuai dengan keahliannya.

  1. Refleksi

Melihat kembali atau merespon suatu kejadian, aktivitas kegiatan dan pengalaman belajar siswa dengan tujuan menyelidiki hal yang sudah diketahui dan yang belum diketahui agar dapat dilakukan tindakan penyempurna.

  1. Penilaian otentik

Penilaian sebenarnya merupakan proses dalam pengumpulan data dan informasi tentang kemampuan belajar siswa secara nyata sehingga guru dapat mengidentifikasi segala kemacetan belajarnya.

Penelitian yang dilakukan kali ini lebih ditekankan pada asas inkuiri karena guru perlu membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis melalui strategi, dan metode pembelajaran yang mendukung siswa untuk belajar secara aktif. Inkuiri yang dipadukan dengan pendekatan CTL merupakan salah satu cara untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Dengan kegiatan inkuiri, siswa dapat belajar secara aktif untuk merumuskan masalah, melakukan penyelidikan, menganalisis dan menginterpretasikan data, serta mengambil keputusan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Perpaduan kegiatan inkuiri dengan pendekatan CTL dapat melatih siswa untuk mampu berpikir kritis terhadap apa yang sedang dipelajari dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata.

Menurut Saefudin (2006: 135) dalam melaksanakan pembelajaran kontekstual ada beberapa tahapan pembelajaran yaitu invitasi, eksplorasi, penjelasan dan solusi dan pengambilan tindakan. Pada tahap invitasi siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengetahuan awalnya tentang konsep yang dibahas. Tahap eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, penginterpretasian data dalam sebuah kegiatan yang telah dirancang guru. Tahap penjelasan dan solusi, saat siswa memberikan penjelasan-penjelasan solusi berdasarkan pada hasil observasinya ditambah dengan penguatan guru, maka siswa dapat menyampaikan gagasan, membuat model, membuat rangkuman dan ringkasan. Pada tahap pengambilan tindakan, siswa dapat membuat keputusan, menggunakan pengetahuan dan keterampilan, berbagai informasi dan gagasan, mengajukan pertanyaan lanjutan mengajukan saran baik secara individu maupun kelompok untuk memecahkan masalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s